Obrolan Seputar Kehamilan dan Melahirkan

Ketika ingat tentang pembicaraan dengan seorang teman melalui telepon beberapa hari yang lalu, muncullah sebuah inspirasi untuk membuat artikel ini. Tidak ada yang spesial sebenarnya, namun  cukup menggelitik tangan ini untuk memencet- mencet keyboard.

Awalnya saya dan teman saya itu ngobrol aja kesana kemari, maklumlah dia berada jauh di luar pulau dan udah cukup lama juga ngga ketemu. Beliaunya kini tengah hamil anak yang kedua dan sudah hampir melahirkan…(semoga dimudahkan, Insya Alloh). Teman saya itu mengeluh kepanasan dan saya jadi ingat ketika saya hamil tua dulu, rasanya suhu bumi ini meningkat beberapa derajat celcius. Baju cepet basah kena keringat, pengennya ngadem melulu…Tapi anehnya setelah putriku lahir, rasa kegerahan itu tidak seekstrim sewaktu saya hamil. Mungkin kalo ibu yang hamil tua memang sering begitu kali ya…saya sih kurang ngerti kenapa bisa begitu, tapi begitulah adanya…

Teman saya ini sedang dalam masa menunggu  untuk melahirkan karena usia kehamilannya sudah menginjak 38 minggu. Lagi-lagi saya teringat dulu ketika hamil betapa saya khawatir sebab bayi saya lahir setelah lebih dari sekitar dua belas hari lewat masa HPL (hari perkiraan lahir). Udah gitu dokternya bilang yang intinya saya harus menghitung gerakan si dede dalam sehari ngga boleh kurang dari sekian (saya lupa). Waktu itu rasanya udah pengen dipacu atau operasi cesar aja biar cepet (daripada khawatir tidak menentu…). Berdasarkan informasi, kalau kehamilan udah lewat dari 2 minggu harus segera dikeluarkan, bisa pake dipacu obat lewat infus atau operasi cesar. Bisa dibayangkan bukan betapa ibu hamil itu secara mental juga diuji…

Alhamdulillah saja posisi bayi teman saya itu  udah bener yaitu kepala di bawah.  Soalnya bayi teman saya ini sebelumnya oleh dokter divonis harus dilahirkan dengan operasi karena letak plasenta menutupi jalan lahir. Setelah itu dia rajin nungging sebagai usaha memutar letak.Lalu teman saya ini mencoba cari second opinion-ganti dokter maksudnya, dan alhamdulillah kata 2 dokter yang lain ngga apa-apa.

Kejadian hampir serupa juga saya alami yaitu ketika usia kehamilan 36 minggu bayi saya masih sungsang. Bidan tempat saya periksa langsung buat rujukan agar saya melahirkan lewat operasi cesar. Divonis begitu, hati ini serasa runtuh…saya pengen banget anak saya bisa lahir dengan normal. Kata Bu Bidan, menurut tinjauan medis dalam usia kehamilan segitu udah gak bisa muterlagi katanya.  Saya tetap usaha dengan rajin nungging dan jalan-jalan. Ketika nungging atau pada saat tidur sering saya letakkan rekaman suara murottal di perut bagian bawah. Saya hanya berharap kepala si ade mendekati sumber bunyi dan otomatis menuju ke bawah (ngga di bagian perut atas lagi). Kurang lebih dua minggu kemudian saya ditemani suami USG ke dokter. Saya sudah pasrah jika memang harus operasi. Alhamdulillah puji syukur padamu Ya Alloh, posisi bayiku sudah mapan di usia 38 minggu. Dan ketika saya periksa kembali ke Bu Bidan, beliau bilang posisi bayinya udah bagus, kata beliau ini nasrulloh…Betul sekali bu, semua ini atas pertolongan Alloh Azza wa Jalla.

Teman saya lalu cerita waktu dulu melahirkan dia sempat mengalami stress pasca melahirkan. Ada semacam perasaan takut apakah bisa mengurus bayinya, takut bagaimana harus membagi waktu dengan suaminya dan ketakutan semacam itu. Mungkin hal semacam juga sempat dialami ibu muda yang lainnya.  Pasca melahirkan saya tidak mengalami sindrom tersebut mungkin  karena kondisi saya pasca melahirkan tidak terlalu baik. Selama 2 hari saya tidak bisa buang air kecil sama sekali dan akhirnya disedot dengan kateter. Selain itu saya mengalami nyeri yang hebat di tulang belakang bagian bawah. Subhanalloh, jika ingat itu semua sungguh suatu pengalaman yang penuh nikmat.

Akhirnya saya nanya tentang berat badan dia  udah nambah berapa kilo. Saya lupa juga apa jawabnya, yang jelas itu menjadikan badan tidak lagi proporsional🙂 Lalu dia bilang kalo suaminya ingin agar dia langsing kembali pasca melahirkan. Mendengar itu saya agak terperangah juga. Saya sangat tahu bahwa hal ini wajar dan lumrah. Para ibu juga pasti ingin langsing kembali setelah melahirkan. Saya menjadi terperangah karena saya tahu untuk menjadi langsing kembali terkadang bukan hal yang mudah. Memang sebagian wanita ada yang bisa kembali langsing karena memang perawakannya kecil. Namun sebagian besar dan pada umumnya akan ada sedikit banyak perubahan pada diri wanita itu pasca melahirkan. Ibarat bunga sudah diambil madunya. Dan tidak semua wanita mampu memenuhi tuntutan agar langsing kembali. Apalagi ia harus menyusui pasca melahirkan sehingga butuh nutrisi yang lebih.

Saya lalu berfikir bahwa ketika seorang wanita melahirkan, dia mempertaruhkan banyak hal. Banyak sudah yang dipertaruhkan dan dikorbankan, baik secara fisik maupun mental,..itu semua demi melahirkan anak dari dia dan suaminya. Saya tidak melarang para suami yang ingin istrinya langsing kembali pasca melahirkan, namun hendaknya para suami tidak sekedar menuntut namun juga harus pengertian. Yang paling penting adalah kesehatan ibu dan bayinya. Dan alhamdulillah sekali lagi saya harus bersyukur,,

**Ahh jadi sedikit terharu ,he,,he..

2 thoughts on “Obrolan Seputar Kehamilan dan Melahirkan

  1. tiba2 menemukan link blog ini, selain cantik..isinya bagus…membaca ini jadi terharu, apalagi saya juga sedang hamil, senang membaca share mengenai kehamilan ini..terimakasih.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s