<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Diary Az-Zahra</title>
	<atom:link href="http://cahayahantari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cahayahantari.wordpress.com</link>
	<description>blog pribadi ummu naila</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Nov 2011 16:30:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cahayahantari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/bf7eb287acacd7e808c80929c0507eca?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Diary Az-Zahra</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cahayahantari.wordpress.com/osd.xml" title="Diary Az-Zahra" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cahayahantari.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sehat dengan Herbal</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2011/10/25/sehat-dengan-herbal/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2011/10/25/sehat-dengan-herbal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 02:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apotek Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaah&#8230;Kali ini saya ingin berbagi info beberapa obat herbal dan kegunaanya dalam membantu penyembuhan beberapa penyakit. Cara kerja obat herbal memang tidak langsung spontan seperti obat obatan kimia, namun ini sangat cocok untuk berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit infeksi yang membutuhkan penyembuhan secara intensif. Cara obat hebal bekerja biasanya adalah dengan memperbaiki sistem tubuh dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=564&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillaah&#8230;Kali ini saya ingin berbagi info beberapa obat herbal dan kegunaanya dalam membantu penyembuhan beberapa penyakit. Cara kerja obat herbal memang tidak langsung spontan seperti obat obatan kimia, namun ini sangat cocok untuk berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit infeksi yang membutuhkan penyembuhan secara intensif. Cara obat hebal bekerja biasanya adalah dengan memperbaiki sistem tubuh dan sel-sel yang rusak.</p>
<p>Bahkan terkadang obat herbal dapat bekerja lebih baik karena sifatnya yang tanpa efek samping. Alam Indonesia sangat kaya akan berbagai tumbuhan herbal dan juga memiliki kebudayaan leluhur yang cukup baik dalam mengolah / meracik ramuan guna menyembuhkan berbagai penyakit, biidznillah&#8230;</p>
<p>Pengalaman saya pribadi pernah suatu ketika sakit batuk tak kunjung sembuh sampai berbulan-bulan, padahal saya sudah mengkonsumsi obat-obatan kimia dan antibiotik, pergi ke dokter spesialis penyakit dalam juga, namun ternyata tak kunjung sembuh. Bahkan sempat mengalami jantung berdebar debar karena mungkin tidak cocok dg obat kimia tertentu.. Lalu sempat juga  mau rontgen untuk memastikan penyakitnya, namun sebelum itu saya lalu mengkonsumsi herbal jahe dan ramuan herbal lainnya, alhamdulillah langsung membaik dalam waktu kurang dari seminggu&#8230;</p>
<p>Nah di bawah ini beberapa alternatif ramuan herbal dan jenis penyakitnya, silahkan disimak:</p>
<p>1. Kapsul Daun Sirsak: untuk membantu mengatasi penyakit kanker, sebagai antibekteri dan menurunkan tekanan darah. Dapat dibeli di <span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong><span style="color:red;"><a href="http://www.berkahherbal.com/?id=indiarti" target="_blank">http://www.berkahherbal.com/?id=indiarti</a></span></strong></span></p>
<p>Harganya relatif terjangkau hanya Rp 30.000 (isi 80 kapsul)</p>
<p>2. Kapsul Minyak Zaitun</p>
<p>Manfaat :</p>
<p>1. Menurunkan resiko terkena penyakit jantung<br />
2. Menekan LDL &amp; meningkatkan HDL darah<br />
3. Membantu melawan kanker<br />
4. Mengatasi arthritis<br />
5. Mencegah Diabetes<br />
6. Mencegah obesitas dan osteoporosis<br />
7. Merevitalisasi sistem imun<br />
8. Menghambat pikun</p>
<p>Bisa Anda dapatkan di <span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong><span style="color:red;"><a href="http://www.berkahherbal.com/?id=indiarti" target="_blank">http://www.berkahherbal.com/?id=indiarti</a></span></strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/564/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=564&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2011/10/25/sehat-dengan-herbal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalau Kita Hanyalah Manusia, Lalu Mengapa Pula Menjadi Lupa Diri?</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2011/05/09/kalau-kita-hanyalah-manusia-lalu-mengapa-pula-menjadi-lupa-diri/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2011/05/09/kalau-kita-hanyalah-manusia-lalu-mengapa-pula-menjadi-lupa-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 09:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Roda kehidupan itu terus berputar,.. ketika kau berada di atas seharusnya engkau sadar bahwa engkaupun pernah berada di bawah dan bahkan bisa jadi engkau akan kembali berada di bawah&#8230; Seperti halnya manusia dia berasal dari saripati tanah dan semuanya tanpa kecuali, kelak akan kembali ke tanah&#8230; Hmm.. lama juga ya saya tidak mengupdate blog ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=557&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Roda kehidupan itu terus berputar,.. ketika kau berada di atas seharusnya engkau sadar bahwa engkaupun pernah berada di bawah dan bahkan bisa jadi engkau akan kembali berada di bawah&#8230;</p>
<p>Seperti halnya manusia dia berasal dari saripati tanah dan semuanya tanpa kecuali, kelak akan kembali ke tanah&#8230;</p>
<p>Hmm.. lama juga ya saya tidak mengupdate blog ini, setelah sekian lama akhirnya baru ada mood lagi untuk menulis. Kali ini saya pengen sedikit curhat tentang sebuah hal yang entah sengaja atau tidak melintas dalam benak saya..</p>
<p>Manusia itu bermacam-macam&#8230;hingga sulit sekali menjabarkan karena begitu kompleksnya, namun kali ini saya akan sedikit berbagi pengalaman bahwa memang benar, semakin bertambahnya usia makin banyak pula jenis-jenis manusia yang akan kita jumpai. Yang semula dulu hanya ada dalam buku cerita atau serial layar kaca, kini beberapa diantaranya hadir pula dalam kehidupan nyata. Tentu saja buka pemerannya langsung maksudnya, namun sifat-sifat tokohnya semata.<br />
to be continue&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/557/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=557&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2011/05/09/kalau-kita-hanyalah-manusia-lalu-mengapa-pula-menjadi-lupa-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gebyar Speedy 2010 di Kota Pekalongan</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/12/09/gebyar-speedy-2010/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/12/09/gebyar-speedy-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 01:55:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gebyar speedy]]></category>
		<category><![CDATA[gebyar speedy]]></category>
		<category><![CDATA[gebyar speedy 2010]]></category>
		<category><![CDATA[gebyar speedy akhir tahun]]></category>
		<category><![CDATA[lomba blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Ikuti berbagai event GRATIS yang akan diselenggarakan seperti Lomba Blog, Kompetisi Game Online (Point Blank), Seminar Internet Sehat, Pelatihan Internet Bersertifikat, Pameran komputer dengan diskon besar-besaran, dan Kuliner. PT. Telkom Indonesia area Pekalongan menyelenggarakan sebuah even acara yang spektakuler menjelang berakhirnya tahun 2010. Acara yang digarap meliputi Game Online Competition, Blog Competition, Pameran Komputer, Seminar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=536&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_537" class="wp-caption alignleft" style="width: 154px"><a href="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/spedy-2.png"><img class="size-full wp-image-537" title="spedy 2" src="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/spedy-2.png?w=144&#038;h=134" alt="" width="144" height="134" /></a><p class="wp-caption-text">Gebyar Speedy 2010</p></div>
<p>Ikuti berbagai event GRATIS yang akan diselenggarakan seperti Lomba  Blog, Kompetisi Game Online (Point Blank), Seminar Internet Sehat,  Pelatihan Internet Bersertifikat, Pameran komputer dengan diskon besar-besaran, dan  Kuliner.<span id="more-536"></span></p>
<p>PT. Telkom Indonesia area Pekalongan menyelenggarakan sebuah even   acara yang spektakuler menjelang berakhirnya tahun 2010. Acara yang   digarap meliputi Game Online Competition, Blog Competition, Pameran   Komputer, Seminar dan Pelatihan Internet Bersertifikat dan Kulinerpun   akan ada di acara ini.</p>
<p>Berbeda dengan acara-acara sebelumnya, kali ini  merupakan yang  pertama dan merupakan sebuah permulaan bagi Speedy  khususnya ingin  memperkenalkan dan mendekatkan diri kepada pelanggan  terhadap  konten-konten yang aman nan layak dinikmati bersama keluarga.</p>
<p>Untuk kompetisi game online klik <a title="game online" href="http://www.epekalongan.net/index.php#">disini</a></p>
<p>Untuk info pameran komputer klik <a title="pameran komputer" href="http://www.epekalongan.net/index.php#">disini </a></p>
<p>Untuk seminar internet klik <a title="seminar internet" href="http://www.epekalongan.net/index.php#">disini</a></p>
<p>Untuk pelatihan internet bersertifikat klik <a href="http://www.epekalongan.net/index.php#">disini</a></p>
<p>Untuk kuliner jajan dan panganan klik <a href="http://www.epekalongan.net/index.php#">disini</a></p>
<p><a href="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/telkom.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-543" title="telkom" src="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/telkom.jpeg?w=209&#038;h=120" alt="" width="209" height="120" /></a><a href="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/speedy.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-544" title="speedy" src="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/speedy.jpeg?w=249&#038;h=98" alt="" width="249" height="98" /></a></p>
<p><a href="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/kota-pekalongan.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-545" title="kota pekalongan" src="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/kota-pekalongan.jpeg?w=148&#038;h=201" alt="" width="148" height="201" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/536/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=536&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/12/09/gebyar-speedy-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/spedy-2.png" medium="image">
			<media:title type="html">spedy 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/telkom.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">telkom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/speedy.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">speedy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/12/kota-pekalongan.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">kota pekalongan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hati yang lembut senantiasa bertabayyun</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/10/14/problematika-pergaulan/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/10/14/problematika-pergaulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 16:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obrolan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Ketika ada temanmu berbuat salah apa yang akan kau lakukan? Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi : Engkau menasihatinya bahwa dia salah, seharusnya yang benar begini. Engkau mendiamkannya namun hubungan diantara kalian masih  terjalin baik. Engkau mendiamkannya, lalu menjauhinya. *** Bagaimanakah seharusnya?? Memang tidak semua orang bisa kita paksakan untuk bisa jadi teman baik kita. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=528&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika ada temanmu berbuat salah apa yang akan kau lakukan?</p>
<p>Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi :</p>
<p>Engkau menasihatinya bahwa dia salah, seharusnya yang benar begini.</p>
<p>Engkau mendiamkannya namun hubungan diantara kalian masih  terjalin baik.</p>
<p>Engkau mendiamkannya, lalu menjauhinya.</p>
<p>***</p>
<p>Bagaimanakah seharusnya??</p>
<p>Memang tidak semua orang bisa kita paksakan untuk bisa jadi teman baik kita.</p>
<p>Namun jika dia berbuat salah lalu tanpa TABAYYUN dan nasihat sedikitpun kamu jadi membencinya lalu kamu menjauhinya maka tanyakanlah pada hatimu sendiri.</p>
<p>Adakah dalam hatimu ada penyakit ?</p>
<p>Sehingga membuat hatimu tak lagi bening ?</p>
<p>Dan kau ikuti hawa nafsumu untuk menjauhinya tanpa sedikitpun ada TABAYYUN &#8230;</p>
<p>Dia tak pernah tahu dimana letak kesalahannya atau bahkan sebenarnya dia tak bersalah, namun kau berlalu dengan mudahnya dengan sebuah alasan sebagai kedok hawa nafsumu&#8230;</p>
<p>Beginikah buah dari hati yang lembut dan penuh kasih sayang?</p>
<p>Namun jangan pula kamu bersikap lemah dengan mendukungnya dengan cara membiarkannya terjerumus dalam kesalahan dan mendiamkannya, apakah ini bentuk rasa kasih sayang itu?</p>
<p>*manusia tak ada yang sama, kulit dan isi kadang berbeda, lisan dan hati kadang tak sama&#8230;itulah manusia&#8230;</p>
<p>Allohul Musta&#8217;an</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/528/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/528/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/528/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=528&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/10/14/problematika-pergaulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DENGAN APAKAH HUJJAH ITU DAPAT DITEGAKKAN ?</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/09/26/dengan-apakah-hujjah-itu-dapat-ditegakkan/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/09/26/dengan-apakah-hujjah-itu-dapat-ditegakkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Sep 2010 07:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[tegak hujjah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh DR Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah Pertanyaan Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah ditanya : Semoga Allah memberikan kebaikan pada Anda. Dengan apakah hujjah itu dapat ditegakkan? Jawaban: Hujjah itu tegak apabila seorang yang bersalah mengetahui kesalahan dalam suatu masalah dan tahu sebesar apa kesalahannya. Artinya dia tahu bahwa dia salah dan tahu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=518&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh<br />
Syaikh DR Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah ditanya : Semoga Allah  memberikan kebaikan pada Anda. Dengan apakah hujjah itu dapat  ditegakkan?</p>
<p>Jawaban:<br />
Hujjah itu tegak apabila seorang yang bersalah mengetahui kesalahan  dalam suatu masalah dan tahu sebesar apa kesalahannya. Artinya dia tahu  bahwa dia salah dan tahu sebesar apa kesalahan itu dengan  dalil-dalilnya. Jika orang tersebut mengetahui kesalahannya maka telah  tegak pada dia hujjah, contohnya adalah orang yang meninggalkan shalat,  jika orang yang meninggalkan shalat ini belum tahu hukumnya, maka belum  tegak hujjah itu pada dia. Lantas jika kita terangkan pada dia  dalil-dalil dan hukumnya, maka hujjah telah tegak pada dia.</p>
<p>Tapi terkadang orang tersebut hanya memahami sebagian hujjah, seperti  dia tahu bahwa meninggalkan shalat itu haram hukumnya dan tahu bahwa itu  maksiat, tapi dia tidak tahu kadar maksiat itu sehingga tidak mengira  bahwa meninggalkan shalat karena meremehkan itu menjadikan pelakunya  kafir misalnya-, maka orang semacam ini harus diberitahu bahwa dia itu  salah, yaitu bahwa meninggalkan shalat itu kekufuran, dan dijelaskan  kepadanya kadar kesalahan itu, inilah proses-proses yang harus dilalui.  Dan hal ini tidak diketahui kecuali dengan dalil-dalil, yaitu bahwa  orang yang bersalah memahami nash dan dalil yang menunjukkan kesalahan  dia, maka jika dia telah faham, telah tegaklah hujjah pada dia, adapun  jika dia mempunyai syubhat (kesamaran) atau ada penghalang tegaknya  hujjah pada dia, maka tidak bias kita katakan bahwa hujjah telah  ditegakkan pada dia.</p>
<p><span id="more-518"></span></p>
<p>Penilaian tentang tegak atau tidaknya hujjah atas seseorang itu  dikembalikan kepada ulama besar, dengan merekalah hujjah bisa tegak.  Maka jika ulama tadi mendebat orang yang menyimpang dan menjelaskan pada  dia kebenaran, pada waktu itulah kita memperkirakan apakah dia faham  atau tidak. Tidak disyaratkan orang yang menyimpang itu mengakui bahwa  hujjah telah tegak pada dia, tapi kapan saja kita tahu bahwa fulan telah  tahu kebenaran dan jelas pada dia dalilnya, maka bisa kita katakan  bahwa hujjah telah tegak pada dia. Hujjah tidak bisa ditegakkan oleh  setiap orang, tapi ulamalah yang menegakkan hujjah, hujjah tidak bisa  tegak dengan perkataan seseorang : Ketahuliah bahwa meninggalkan shalat  adalah kufur, jika kamu terus tidak mau shalat, maka kamu kafir. Hujjah  bisa tegak dengan menerangkan pada dia dalil-dalil dan menjawab  syubhat-syubhat dia serta menghilangkan syubhat tersebut dan  menghapuskan ketidaktahuan serta kejahilan yang ada pada dia sampai kita  yakin bahwa orang yang menyimpang itu telah faham tapi terus melakukan  kesalahannya karena menolak kebenaran dan sombong, pada waktu itulah  kita dapat menghukuminya.</p>
<p>Sebagian orang ada yang hujjah itu tidak bisa tegak dengannya, seperti  orang jahil atau orang yang tidak bisa menegakkan hujjah dengan baik,  misalnya; tidak bisa menjelaskan dalil dengan baik atau tidak berlemah  lembut dalam dakwahnya, karena orang yang keras dalam dakwahnya tidak  bias tegak hujjah dengannya, Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun.</p>
<p>&#8220;Artinya : Pergilah kalian berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia  melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan  kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut&#8221; [Thahaa  : 43-44]</p>
<p>Padahal Allah tahu bahwa Firaun akan mati dalam keadaan kafir, tapi  Allah tetap memerintahkan untuk berkata dengan lemah lembut padanya,  karena hujjah tak akan tegak kecuali dengan ar-rifqu dan al-liin (lemah  lembut), adapun tanfir (cara yang membuat orang lari) tidak akan bisa  hujjah itu tegak dengannya.</p>
<p>Kemudian hujjah itu tidak bisa tegak kecuali dengan kesabaran dan penjelasan terhadap orang yang bersalah.</p>
<p>Juga seorang alim yang menegakkan hujjah haruslah dipercayai keilmuannya  oleh orang yang ditegakkan padanya hujjah, adapun jika penegak hujjah  tidak dipercaya olehnya, maka terkadang tidak membuahkan hasil.</p>
<p>Tidak ada suatu masalahpun yang dapat kita katakan: Bahwa penegakkan  hujjah tidak disyaratkan di dalamnya (dalam masalah itu). Apabila orang  yang bersalah itu tidak tahu hukumnya, maka Allah akan memberikan udzur  padanya, ketika dia datang kepada Rabbnya di hari kiamat dan mengatakan:  Saya jahil tentang masalah ini, dan Allah tahu kejujuran perkataannya,  maka Allah memberikan udzur kepadanya. Walaupun sebagian ulama ada yang  berpendapat bahwa ada hal-hal yang malumun minad diini bidh dhoruroh  (yang tidak-bisa-tidak pasti diketahui oleh semua orang) tapi ini  menurut perkiraan kita, karena pada dasarnya hal-hal yang seperti itu  kebanyakan tidak dilanggar kecuali oleh orang yang sombong atau keras  kepala, tapi pada hakikatnya kalau kita katakan bahwa ini adalah masalah  darurat yang harus diketahui dalam agama tapi ternyata si Fulan jahil  terhadap hal ini, maka tidak bisa kita hukumi dengan kekafiran, karena  Allah memberikan udzur dengan kejahilannya itu.</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Taala.</p>
<p>&#8220;Artinya : Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya&#8221; [Al-Baqarah : 286]</p>
<p>Dan ketidakfahaman dia diluar kemampuannya, dan manusia tidak sama  (tidak satu tingkatan) dalam hal-hal yang malumun minad diini bidh  dhoruroh. Hal-hal yang malumun minad diini bidh dhoruroh ini bagi para  ulama berbeda dengan hal-hal yang malumun minad diini bidh dhoruroh bagi  para penuntut ilmu, dan hal-hal ini berbeda antara penuntut ilmu dan  orang awwam, negara yang tersebar di dalamnya sunnah dan ilmu berbeda  dengan negara yang jauh dari sunnah dan ilmu.</p>
<p>Kaidah dalam hal ini adalah bahwa bagaimanapun kesalahan itu harus kita  minta penjelasan. Ketika Muadz Radhiallaahu anhu datang kepada  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian sujud padanya, Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apa ini yaa Muadz ?, padahal Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam telah mengutusnya untuk mengajarkan ilmu  dan agama dan beliaupun seorang sahabat yang faqih, tapi ternyata hukum  masalah ini tidak beliau ketahui, beliau melakukan hal itu kepada Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam karena takwil (karena beliau melihat ahli  kitab bersujud pada rahib mereka, Beliaupun berpandangan bahwa kaum  muslimin lebih berhak untuk bersujud kepada Nabinya). Demikian pula  Hatib radhiallaahuanhu, tersembunyi dari beliau masalah itu, padahal  hukumnya jelas, sebagaimana dalam kisahnya (ketika Rasulullah menyiapkan  pasukan besar untuk fathu Mekah, Hatib mengirimkan surat memberitahukan  salah seorang kerabatnya yang ada di Mekah, melalui seorang wanita yang  kemudian Allah beritahukan dengan wahyu-Nya, kemudian Nabi Shallallahu  alaihi wa sallam pun memaafkan beliau [Lihat Shahih Bukhari 3/1095 no.  2845, Shahih Muslim 4/1941 no.2394 --pent]</p>
<p>Kerena syubhat itu menghalangi seseorang dari al-haq, walaupun itu  seorang ulama, maka harus kita minta penjelasan sebagaimana Nabi  shallallahu alaihi wa sallam melakukannya, kita katakan: Apa yang  membuat anda berbuat demikian.?? Jika ternyata alasannya bisa diterima  ketika itulah kita terangkan pada dia ilmu dan menjawab syubhatnya dan  tidak boleh kita menghukumi dia hanya karena kesalahan.</p>
<p>[Diterjemahkan dari Nasehat Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily  hafidzohullah, dan risalah ini disusun oleh Abu Abdirrahman Abdullah  Zaen dan Abu Bakr Anas Burhanuddin dkk Mahasiswa Universitas Islam  Madinah]</p>
<p>sumber: almanhaj.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/518/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=518&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/09/26/dengan-apakah-hujjah-itu-dapat-ditegakkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Penyingkatan Dengan Kata &#8220;ASS, WR.WB, SAW, SWT&#8221;</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/29/hukum-penyingkatan-dengan-kata-ass-wr-wb-saw-swt/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/29/hukum-penyingkatan-dengan-kata-ass-wr-wb-saw-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 04:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[adab islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Banyak saudara kita yang menulis ucapan salam, ucapan sholawat dan asma Allah dengan singkatan, baik itu di commet-commet, di sms, dll. Kita tahu bahwa menulis tidaklah beda dengan kita berbicara kepada orang lain, yang mana disitu ada malaikat yang senantiasa mencatat perbuatan tersebut. Sekecil apapun perbuatan itu pasti ada nilainya disisi Allah, dan sesungguhnya amal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=515&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak saudara kita yang menulis ucapan salam, ucapan sholawat dan asma  Allah dengan singkatan, baik itu di commet-commet, di sms, dll. Kita  tahu bahwa menulis tidaklah beda dengan kita berbicara kepada orang  lain, yang mana disitu ada malaikat yang senantiasa mencatat perbuatan  tersebut.</p>
<p>Sekecil apapun perbuatan itu pasti ada nilainya disisi Allah, dan  sesungguhnya amal ibadah seseorang itu tergantung dari keikhlasan  masing-masing individu, kalaulah kita hendak bersholawat, hendaknya  menuliskannya dengan lengkap (tidak dengan menyingkatnya), sebagai bukti  keikhlasan kita dalam mengamalkannya.</p>
<p>insya Allah dengan membiasakan ini amalan kita akan menjadi sempurna,  Inilah adab kepada Allah dan Rasul-Nya yang harus kita perhatikan.  Berikut adalah fatwa-fatwa ulama seputar masalah penyingkatan kata:<br />
<span id="more-515"></span><br />
Fatwa Syaikh Wasiyullah Abbas (Ulama Masjidil Haram, pengajar di Ummul Qura)</p>
<p>Soal:<br />
Banyak orang yang menulis salam dengan menyingkatnya, seperti dalam  Bahasa Arab mereka menyingkatnya dengan wrwb islam Fatwa Larangan  Penyingkatan Salam dan Shalawat Dalam bahasa Inggris mereka  menyingkatnya dengan “ws wr wb” (dan dalam bahasa Indonesia sering  dengan “ass wr wb” – pent). Apa hukum masalah ini?</p>
<p>Jawab:<br />
Tidak boleh untuk menyingkat salam secara umum dalam tulisan,  sebagaimana tidak boleh pula meningkat shalawat dan salam atas Nabi kita  shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh pula menyingkat yang selain  ini dalam pembicaraan.</p>
<p>Diterjemahkan dari <a rel="nofollow" href="http://www.bakkah.net/" target="_blank">www.bakkah.net</a><br />
Fatwa Lajnah Ad-Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)</p>
<p>Soal:<br />
Bolehkah menulis huruf SAW yang maksudnya shalawat (ucapan shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan apa alasannya?</p>
<p>Jawab:<br />
Yang disunnahkan adalah menulisnya secara lengkap –shallallahu ‘alaihi  wasallam- karena ini merupakan doa. Doa adalah bentuk ibadah, begitu  juga mengucapkan kalimat shalawat ini.</p>
<p>Penyingkatan terhadap shalawat dengan menggunakan huruf shad atau  penyingkatan Salam dan Shalawat (seperti SAW, penyingkatan dalam Bahasa  Indonesia -pent) tidaklah termasuk doa dan bukanlah ibadah, baik ini  diucapkan maupun ditulis. Dan juga karena penyingkatan yang demikian  tidaklah pernah dilakukan oleh tiga generasi awal Islam yang  keutamaannya dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga serta para sahabat beliau.</p>
<p>Dewan Tetap untuk Penelitian Islam dan Fatwa</p>
<p>Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullaah Ibn Baaz;<br />
Anggota: Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi;<br />
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Ghudayyaan;<br />
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Qu’ood</p>
<p>(Fataawa al-Lajnah ad-Daa.imah lil-Buhooth al-’Ilmiyyah wal-Iftaa., &#8211; Volume 12, Halaman 208, Pertanyaan ke-3 dariFatwa No.5069)</p>
<p>Diterjemahkan dari <a rel="nofollow" href="http://fatwa-online.com/fataawa/miscellaneous/enjoiningthegood/0020919.htm" target="_blank">http://fatwa-online.com/fataawa/miscellaneous/enjoiningthegood/0020919.htm</a></p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz<br />
Apa keutamaan bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?  Bolehkah kita menyingkat ucapan shalawat tersebut dalam penulisan,  misalnya kita tulis Muhammad SAW dengan maksud singkatan dari salallahu  &#8216;alaihi wassalam ?</p>
<p>Jawab:<br />
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjawab:</p>
<p>“Mengucapkan shalawat untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  merupakan perkara yang disyariatkan. Di dalamnya terdapat faedah yang  banyak. Di antaranya menjalankan perintah Allah, menyepakati Allah  Subhanallahu Wa ta’ala dan para malaikat-Nya yang juga bershalawat untuk  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah berfirman:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai  orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam  kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)</p>
<p>Faedah lainnya adalah melipat gandakan pahala orang yang bershalawat  tersebut, adanya harapan doanya terkabul, dan bershalawat merupakan  sebab diperolehnya berkah dan langgengnya kecintaan kepada Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sebagaimana bershalawat menjadi sebab  seorang hamba beroleh hidayah dan hidup hatinya. Semakin banyak  seseorang bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan  mengingat beliu, akan semakin kental pula kecintaan kepada beliau di  dalam hati. Sehingga tidak tersisa di hatinya penentangan terhadap  sesuatu pun dari perintahnya dan tidak pula keraguan terhadap apa yang  beliau sampaikan.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan anjuran  untuk mengucapkan shalawat atas beliau dalam beberapa hadits. Di  antaranya hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari  Abu Hurairah Radhiallahuanhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda:</p>
<p>“Siapa yang bershalawat untukku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”</p>
<p>Dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu juga, disebutkan bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan (Dengan  tidak dikerjakan shalat sunnah di dalamnya, demikian pula Al-Qur’an  tidak dibaca di dalamnya. (-pent.)) dan jangan kalian jadikan kuburanku  sebagai id (tempat kumpul-kumpul -pent). Bershalawatlah untukku karena  shalawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.”  [Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh  Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud]</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pula bersabda:</p>
<p>“Terhinalah seorang yang aku (namaku) disebut disisinya namun ia tidak  mau bershalawat untukku.” [HR. At-Tirmidzi, kata Asy-Syaikh Muqbil dalam  Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, “Hadits hasan gharib.”]</p>
<p>Bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disyariatkan dalam  tasyahhud shalat, dalam khutbah, saat berdoa serta beristighfar.  Demikian pula setelah adzan, ketika keluar serta masuk masjid, ketika  mendengar nama beliau disebut, dan sebagainya.</p>
<p>Perkaranya lebih ditekankan ketika menulis nama beliau dalam kitab,  karya tulis, risalah, makalah, atau yang semisalnya berdasarkan dalil  yang telah lewat. Ucapan shalawat ini disyariatkan untuk ditulis secara  lengkap/sempurna dalam rangka menjalankan perintah Allah Aza Wajallah  kepada kita dan agar pembaca mengingat untuk bershalawat ketika melewati  tulisan shalawat tersebut. Tidak sepantasnya lafazh shalawat tersebut  ditulis dengan singkatan misalnya shad1 islam Fatwa Larangan  Penyingkatan Salam dan Shalawat atau slm1 islam Fatwa Larangan  Penyingkatan Salam dan Shalawat ataupun singkatan-singkatan yang serupa  dengannya, yang terkadang digunakan oleh sebagian penulis dan penyusun.  Hal ini jelas menyelisihi perintah Allah Aza Wajallah dalam firman-Nya:</p>
<p>“… bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”</p>
<p>Dan juga dengan menyingkat tulisan shalawat tidak akan sempurna  maksudnya serta tidak diperoleh keutamaan sebagaimana bila menuliskannya  secara sempurna. Terkadang pembaca tidak perhatian dengan singkatan  tersebut atau tidak paham maksudnya.</p>
<p>Menyingkat lafazh shalawat ini dibenci oleh para ulama dan mereka memberikan peringatan akan hal ini.</p>
<p>Ibnu Shalah<br />
Ibnu Shalah dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits yang lebih dikenal dengan  Muqqadimah Ibnish Shalah mengatakan, “(Seorang yang belajar hadits  ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan  salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila melewatinya.  Janganlah ia bosan menulisnya secara lengkap ketika berulang menyebut  Rasulullah.”</p>
<p>Ibnu Shalah juga berkata, “Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan shalawat tersebut:</p>
<p>Pertama, ia menuliskan lafazh shalawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.</p>
<p>Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang, misalnya ia tidak  menuliskan wassalam islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat</p>
<p>Al-‘Allamah As-Sakhawi<br />
Al-‘Allamah As-Sakhawi dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil  Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan, “Jauhilah wahai penulis, menuliskan  shalawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf  dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini  dilakukan oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Arab) secara umum dan  penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat lafazh shalawat dengan saw dan  shad, Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda  dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.</p>
<p>As-Suyuthi<br />
As-Suyuthi berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib  An-Nawawi, mengatakan, “Dibenci menyingkat shalawat dan salam dalam  penulisan, baik dengan satu atau dua huruf seperti menulisnya dengan  slm3, bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”</p>
<p>Inilah wasiat saya kepada setiap muslim dan pembaca juga penulis, agar  mereka mencari yang utama atau afdhal, mencari yang di dalamnya ada  tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapat  membatalkan atau menguranginya.”</p>
<p>(Diringkas dari fatwa Asy-Syaikh Ibn Baz yang dimuat dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 2/396-399)</p>
<p>Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol. III/No. 36/1428 H/2007, Kategori Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, Hal. 89-91.</p>
<p>Sumber rujukan:<br />
<a rel="nofollow" href="http://bakkah.net/interactive/q&amp;a/aawa004.htm" target="_blank">http://bakkah.net/interactive/q&amp;a/aawa004.htm</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://bakkah.net/articles/SAWS.htm" target="_blank">http://bakkah.net/articles/SAWS.htm</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://fatwa-online.com/fataawa/miscellaneous/enjoiningthegood/0020919.htm" target="_blank">http://fatwa-online.com/fataawa/miscellaneous/enjoiningthegood/0020919.htm</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://rosyidi.com/fatwa-larangan-penyingkatan-salam-dan-shalawat/" target="_blank">http://rosyidi.com/fatwa-larangan-penyingkatan-salam-dan-shalawat/</a></p>
<p>Kesimpulan:<br />
Kita tidak boleh menyingkat salam dengan cara apapun, misalnya  &#8220;assalaamu&#8217;alaykum wr.Wb.&#8221;, menyingkat sholawat seperti SAW atau  menyingkat lafadz dengan SWT. Alasannya seperti yang telah dijelaskan  oleh ulama-ulama diatas karena didalamnya ada bentuk do&#8217;a dan  pengagungan kepada Allah yang telah disyari&#8217;atkan, Misal ada orang  menyingkat &#8220;Allah SWT&#8221; berarti dia telah menyelisihi bentuk pengagungan  yang telah di syari&#8217;atkan, hendaknya dia menulis &#8220;Allah Subhanallahu wa  ta&#8217;ala&#8221;. Ada juga yang menuliskan ALLAH dengan huruf &#8220;4JJ1&#8243;, tidak boleh  kita menulis seperti ini karena &#8220;4JJ1&#8243; telah diselewengkan maknanya  menjadi &#8220;For Judas Jesus Isa Al-Masih&#8221;. Maha suci Allah dari ucapan  seperti ini.</p>
<p>Firman Allah subhannallahuwa ta&#8217;ala (yang artinya):<br />
&#8220;Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah  penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang  serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.&#8221; (An Nisaa&#8217;:  86).</p>
<p>Berikut ucapan salam dan keutamaannya yang telah dicontohkan oleh<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam:</p>
<p>“Telah datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wassalam  dan berkata, ‘Assalamualaikum’. Maka Rasulullah menjawab salam kemudian  dia duduk. Maka Rasulullah berkata sepuluh pahala kemudian datang yang  lain memberi salam dengan berkata ‘Assalamualaikum warahmatullah’, lalu  Rasulullah menjawab salam tadi, dan berkata dua puluh pahala. Kemudian  datang yang ketiga terus berkata ‘Assalamualaikum warahmatullahi  wabarakatuh’. Rasulullah pun menjawab salam tadi dan terus duduk, maka  Rasulullah berkata tiga puluh pahala. (Hadits Hasan :Riwayat Abu Daud  Tarmizi)</p>
<p>Semoga bermanfaat, Wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;lam bissowab<br />
-Abu Ahmed-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/515/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=515&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/29/hukum-penyingkatan-dengan-kata-ass-wr-wb-saw-swt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adab Wanita Membaca Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/19/adab-wanita-membaca-al-quran/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/19/adab-wanita-membaca-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 04:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[fikih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu’alaikum, Pak Ustadz mau tanya, Bagaimana adab-adab membaca Al Quran, apakah wanita yang sedang berhalangan/haid boleh membaca Al Quran? Dan apakah tanpa wudhu juga boleh membaca Al Quran? Trima kasih atas jawabannya. Wassalamu’alaikum (Bu Elly, Pontianak) dijawab oleh Ustadz Abdullah Roy,Lc Jawab: Wa&#8217;alaikumsalam. Pertama: Diantara adab-adab membaca Al-Quran: 1. Membaca ta&#8217;awwudz (a&#8217;udzu billahi minasysyaithanirrajim) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=508&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanya:</strong> Assalamu’alaikum, Pak Ustadz mau tanya,  Bagaimana adab-adab membaca Al Quran, apakah wanita yang sedang  berhalangan/haid boleh membaca Al Quran? Dan apakah tanpa wudhu juga  boleh membaca Al Quran? Trima kasih atas jawabannya. Wassalamu’alaikum  (Bu Elly, Pontianak)</p>
<p>dijawab oleh Ustadz Abdullah Roy,Lc<br />
<span id="more-508"></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong> Wa&#8217;alaikumsalam.<br />
<strong>Pertama:</strong><br />
Diantara adab-adab membaca Al-Quran:<br />
1. Membaca ta&#8217;awwudz (a&#8217;udzu billahi minasysyaithanirrajim)<br />
Allah ta&#8217;alaa berfirman:<br />
(فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) (النحل:98)<br />
<em>Apabila kamu membaca al-Qur&#8217;an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. 16:98)</em><br />
2. Membaca Al-Quran dengan tartil (sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid)<br />
Allah ta&#8217;alaa berfirman:<br />
(وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً) (المزمل:4)<br />
<em>Dan bacalah al-Qur&#8217;an itu dengan tartil. (QS. 73:4)</em><br />
3. Hendaklah dalam keadaan suci<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
إني كرهت أن أذكر الله إلا على طهر<br />
<em>Sungguh aku membenci jika aku berdzikir kepada Allah dalam  keadaan tidak suci (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syeikh  Al-Albany)</em><br />
4. Membersihkan mulut sebelum membaca Al-Quran dengan siwak atau sikat gigi atau yang lain.<br />
Berkata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu berkata:<br />
إن أفواهكم طرق للقرآن . فطيبوها بالسواك<br />
<em> &#8220;Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan-jalan Al-Quran,  maka wangikanlah mulut-mulut kalian dengan siwak &#8221; (Atsar ini  diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan dishahihkan  oleh Syeikh Al-Albany di  Shahih Ibnu Majah 1/110-111).</em><br />
5. Memilih tempat yang bersih<br />
6. Hendaknya merenungi apa yang terkandung di dalam Al-Quran,<br />
Allah ta&#8217;ala berfirman:<br />
(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً) (النساء:82)  <em>Maka  apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu  bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak  di dalamnya. (QS. 4:82)</em><br />
7. Memohon rahmat Allah jika melewati ayat-ayat rahmat dan meminta perlindungan dari kejelekan ketika melewati ayat-ayat adzab.<br />
Di dalam hadist Hudzaifah disebutkan bahwa suatu saat beliau shalat  malam bersama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kemudian beliau  menceritakan bagaimana Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaca  Al-Quran ketika shalat:<br />
إذا مر بآية فيها تسبيح سبح وإذا مر بسؤال سأل وإذا مر بتعوذ تعوذ<br />
<em>&#8220;Jika melewati ayat yang di dalamnya ada tasbih (penyucian  kepada Allah) maka beliau bertasbih, dan jika melewati ayat tentang  permintaan maka beliau meminta, dan jika melewati ayat tentang memohon  perlindungan maka beliau memohon perlindungan&#8221; (HR. Muslim)</em><br />
8. Tidak membaca Al-Quran dalam keadaan mengantuk.<br />
Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
إذا قام أحدكم من الليل فاستعجم القرآن على لسانه فلم يدر ما يقول فليضطجع<br />
<em>&#8220;Kalau salah seorang dari kalian shalat malam kemudian lisannya  tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik (karena mengantuk) dan tidak  tahu apa yang dikatakan maka hendaklah dia berbaring&#8221; (HR. Muslim)</em><br />
(Lihat pembahasan lebih luas di At-Tibyan fii Aadaab Hamalatil  Quran, An-Nawawy, dan Al-Itqan fii &#8216;Ulumil Quran, As-Suyuthi  (1/276-299),Al-Burhan fii &#8216;Ulumil Quran, Az-Zarkasyi (1/449-480)</p>
<p><strong>Kedua: </strong><br />
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah wanita yang haidh boleh  membaca Al-Quran atau tidak? Dan yang kuat –wallahu a&#8217;lam- diperbolehkan  bagi wanita yang sedang haidh untuk membaca Al-Quran karena tidak  adanya dalil yang shahih yang melarang.<br />
Bahkan dalil menunjukkan bahwa wanita yang haidh boleh membaca  Al-Quran, diantaranya sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  kepada Aisyah radhiyallhu &#8216;anha yang akan melakukan umrah akan tetapi  datang haidh:<br />
ثم حجي واصنعي ما يصنع الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت ولا تصلي<br />
<em>&#8220;Kemudian berhajilah, dan lakukan apa yang dilakukan oleh orang  yang berhaji kecuali thawaf dan shalat &#8221; (HR.Al-Bukhary dan Muslim, dari  Jabir bin Abdillah)</em><br />
Berkata Syeikh Al-Albany:<br />
فيه دليل على جواز قراءة الحائض للقرآن لأنها بلا ريب من أفضل أعمال  الحج وقد أباح لها أعمال الحاج كلها سوى الطواف والصلاة ولو كان يحرم عليها  التلاوة أيضا لبين لها كما بين لها حكم الصلاة بل التلاوة أولى بالبيان  لأنه لا نص على تحريمها عليها ولا إجماع بخلاف الصلاة فإذا نهاها عنها وسكت  عن التلاوة دل ذلك على جوازها لها لأنه تأخير البيان عن وقت الحاجة لا  يجوز كما هو مقرر في علم الأصول وهذا بين لا يخفى والحمد لله<br />
&#8220;Hadist ini menunjukkan bolehnya wanita yang haidh membaca Al-Quran,  karena membaca Al-Quran termasuk amalan yang paling utama dalam ibadah  haji, dan nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah membolehkan bagi  Aisyah semua amalan kecuali thawaf dan shalat, dan seandainya haram  baginya membaca Al-Quran tentunya akan beliau terangkan sebagaimana  beliau menerangkan hukum shalat (ketika haidh), bahkan hukum membaca  Al-Quran (ketika haidh) lebih berhak untuk diterangkan karena tidak   adanya nash dan ijma&#8217; yang mengharamkan, berbeda dengan  hukum shalat  (ketika haidh). Kalau beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang  Aisyah dari shalat (ketika haidh) dan tidak berbicara tentang hukum  membaca Al-Quran (ketika haidh) ini menunjukkan bahwa membaca Al-Quran  ketika haidh diperbolehkan, karena mengakhirkan keterangan ketika  diperlukan tidak diperbolehkan, sebagaimana hal ini ditetapkan dalam  ilmu ushul fiqh, dan ini jelas tidak samar lagi, walhamdu lillah&#8221;  (Hajjatun Nabi hal:69).<br />
Namun jika orang yang berhadats kecil dan wanita haidh ingin   membaca Al-Quran maka dilarang menyentuh mushhaf atau bagian dari  mushhaf, dan ini adalah pendapat empat madzhab, Hanafiyyah (Al-Mabsuth  3/152), Malikiyyah (Mukhtashar Al-Khalil hal: 17-18), Syafi&#8217;iyyah  (Al-Majmu&#8217; 2/67), Hanabilah (Al-Mughny 1/137).<br />
Mereka berdalil dengan firman Allah ta&#8217;alaa:<br />
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (الواقعة: 79)<br />
<em>&#8220;Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci&#8221; </em><br />
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan mushaf yang  kita dilarang menyentuhnya adalah termasuk kulitnya/sampulnya karena dia  masih menempel. Adapun memegang mushhaf dengan sesuatu yang tidak  menempel dengan mushhaf (seperti kaos tangan dan yang sejenisnya) maka  diperbolehkan.<br />
Berkata Syeikh Bin Baz:<br />
يجوز للحائض والنفساء قراءة القرآن في أصح قولي العلماء ؛ لعدم ثبوت ما  يدل على النهي عن ذلك بدون مس المصحف، ولهما أن يمسكاه بحائل كثوب طاهر  ونحوه، وهكذا الورقة التي كتب فيها القرآن عند الحاجة إلى ذلك<br />
&#8220;Boleh bagi wanita haidh dan nifas untuk membaca Al-Quran menurut  pendapat yang lebih shahih dari 2 pendapat ulama, karena tidak ada dalil  yang melarang, namun tidak boleh menyentuh mushhaf, dan boleh  memegangnya dengan penghalang seperti kain yang bersih atau selainnya,  dan boleh juga memegang kertas yang ada tulisan Al-Quran (dengan  menggunakan penghalang) ketika diperlukan&#8221; (Fatawa Syeikh Bin Baz  24/344).</p>
<p>Ketiga:<br />
Yang lebih utama adalah membaca Al-Quran dalam keadaan suci, dan  boleh membacanya dalam keadaan tidak suci karena hadats kecil.<br />
Dan ini adalah kesepakatan para ulama.<br />
Berkata Imam An-Nawawy:<br />
أجمع المسلمون على جواز قراءة القرآن للمحدث الحدث الاصغر والأفضل أن يتوضأ لها<br />
&#8220;Kaum muslimin telah bersepakat atas bolehnya membaca Al-Quran untuk  orang yang tidak suci karena hadats kecil, dan yang lebih utama  hendaknya dia berwudhu&#8221; (Al-Majmu&#8217;, An-Nawawy 2/163).<br />
Diantara dalil yang menunjukan bolehnya membaca Al-Quran tanpa  berwudhu adalah hadist Ibnu Abbas ketika beliau bermalam di rumah  bibinya Maimunah radhiyallahu &#8216;anha (istri Rasulullah shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam), beliau berkata:<br />
فنام رسول الله صلى الله عليه و سلم حتى إذا انتصف الليل أو قبله بقليل  أو بعده بقليل استيقظ رسول الله صلى الله عليه و سلم فجلس يمسح النوم عن  وجهه بيده ثم قرأ العشر الخواتم من سورة آل عمران<br />
<em>&#8220;Maka Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidur sampai  ketika tiba tengah malam, atau sebelumnya atau sesudahnya, beliau bangun  kemudian duduk dan mengusap muka dengan tangan beliau supaya tidak  mengantuk, kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali Imran&#8221;  (HR.Al-Bukhary) </em><br />
Di dalam hadist ini Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaca Al-Quran setelah bangun tidur, sebelum beliau berwudhu.<br />
Imam Al-Bukhary telah meletakkan hadist ini di beberapa bab di dalam kitab beliau (Shahih Al-Bukhary) diantaranya di bawah bab:<br />
باب قراءة القرآن بعد الحدث وغيره<br />
&#8220;Bab Membaca Al-Quran setelah hadats dan selainnya&#8221;<br />
Namun sekali lagi, tidak boleh bagi orang yang berhadats kecil menyentuh mushhaf secara langsung.<br />
Wallahu a&#8217;lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/508/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=508&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/19/adab-wanita-membaca-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jumlah Rakaat Shalat Tarawih 11 atau 23 rakaat?</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/11/jumlah-rakaat-shalat-tarawih-11-atau-23-rakaat/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/11/jumlah-rakaat-shalat-tarawih-11-atau-23-rakaat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 14:11:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah rakaat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[rakaat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali masalah jumlah raka’at shalat tarawih dipermasalahkan di tengah-tengah masyarakat. Sampai-sampai jumlah raka’at ini jadi tolak ukur, apakah si fulan termasuk golongannya ataukah tidak. Kami pernah mengangkat pembahasan jumlah raka’at shalat tarawih, namun masih ada saja yang sering mendebat mempertanyakan pendapat pilihan kami. Sekarang kami akan membahas dari sisi dalil pendukung shalat tarawih 23 raka’at. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=481&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seringkali masalah jumlah raka’at shalat tarawih dipermasalahkan di tengah-tengah masyarakat. Sampai-sampai jumlah raka’at ini jadi tolak ukur, apakah si fulan termasuk golongannya ataukah tidak. Kami pernah mengangkat pembahasan jumlah raka’at shalat tarawih, namun masih ada saja yang sering mendebat mempertanyakan pendapat pilihan kami. Sekarang kami akan membahas dari sisi dalil pendukung shalat tarawih 23 raka’at.</p>
<p><span id="more-481"></span></p>
<p>Hal ini kami kemukakan dengan tujuan supaya kaum muslimin sadar bahwa beda pendapat yang terjadi sebenarnya tidak perlu sampai meruntuhkan kesatuan kaum muslimin. Dalil pendukung yang akan kami kemukakan menunjukkan bahwa shalat tarawih 23 raka’at sama sekali bukanlah bid’ah, perkara yang dibuat-buat. Kami akan buktikan dari sisi dalil dan beberapa alasan. Semoga amalan ini ikhlas karena mengharap wajah-Nya.</p>
<p>Asal ‘Umar Mulai Mengumpulkan Para Jama’ah dalam Shalat Tarawih</p>
<p>Dalam Shahih Al Bukhari pada Bab “Keutamaan Qiyam Ramadhan” disebutkan beberapa riwayat sebagai berikut.</p>
<p>حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ &#8211; رضى الله عنه &#8211; أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; قَالَ « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ » . قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَتُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; وَالأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ، ثُمَّ كَانَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِى خِلاَفَةِ أَبِى بَكْرٍ وَصَدْرًا مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ &#8211; رضى الله عنهما -</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami &#8216;Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin &#8216;Abdurrahman dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Barangsiapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu&#8221;. Ibnu Syihab berkata; Kemudian Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam wafat, namun orang-orang terus melestarikan tradisi menegakkan malam Ramadhan (secara bersama, jamaah), keadaan tersebut terus berlanjut hingga zaman kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal kekhilafahan &#8216;Umar bin Al Khaththob radhiyallahu &#8216;anhu. (HR. Bukhari no. 2009)</p>
<p>وَعَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ &#8211; رضى الله عنه &#8211; لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ ، إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّى أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ . ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ . يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ</p>
<p>Dan dari Ibnu Syihab dari &#8216;Urwah bin Az Zubair dari &#8216;Abdurrahman bin &#8216;Abdul Qariy bahwa dia berkata, &#8220;Aku keluar bersama &#8216;Umar bin Al Khoththob radhiyallahu &#8216;anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma&#8217;mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka &#8216;Umar berkata, &#8220;Aku berpikir bagaimana seandainya mereka semuanya shalat berjama&#8217;ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik&#8221;. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama&#8217;ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka&#8217;ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama&#8217;ah dengan dipimpin seorang imam, lalu &#8216;Umar berkata, &#8220;Sebaik-baiknya bid&#8217;ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam[1].” Yang beliau maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (HR. Bukhari no. 2010)</p>
<p>Adapun mengenai jumlah raka’at shalat tarawih yang dilakukan di zaman ‘Umar tidak disebutkan secara tegas dalam riwayat di atas[2], dan ada perbedaan dalam beberapa riwayat yang nanti akan kami jelaskan selanjutnya.</p>
<p>Shalat Tarawih 11 Raka’at di Masa ‘Umar</p>
<p>Disebutkan dalam Muwaththo’ Imam Malik riwayat sebagai berikut.</p>
<p>وَحَدَّثَنِى عَنْ مَالِكٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِىَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِىِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلاَّ فِى فُرُوعِ الْفَجْرِ.</p>
<p>Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Muhammad bin Yusuf dari As-Sa`ib bin Yazid dia berkata, &#8220;Umar bin Khatthab memerintahkan Ubay bin Ka&#8217;ab dan Tamim Ad Dari untuk mengimami orang-orang, dengan sebelas rakaat.&#8221; As Sa`ib berkata, &#8220;Imam membaca dua ratusan ayat, hingga kami bersandar di atas tongkat karena sangat lamanya berdiri. Dan kami tidak keluar melainkan di ambang fajar.&#8221; (HR. Malik dalam Al Muwaththo’ 1/115).</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[3]</p>
<p>Shalat Tarawih 23 Raka’at di Masa ‘Umar</p>
<p>Dalam Musnad ‘Ali bin Al Ja’d terdapat riwayat sebagai berikut.</p>
<p>حدثنا علي أنا بن أبي ذئب عن يزيد بن خصيفة عن السائب بن يزيد قال : كانوا يقومون على عهد عمر في شهر رمضان بعشرين ركعة وإن كانوا ليقرءون بالمئين من القرآن</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami ‘Ali, bahwa Ibnu Abi Dzi’b dari Yazid bin Khoshifah dari As Saib bin Yazid, ia berkata, “Mereka melaksanakan qiyam lail di masa ‘Umar di bulan Ramadhan sebanyak 20 raka’at. Ketika itu mereka membaca 200 ayat Al Qur’an.” (HR. ‘Ali bin Al Ja’d dalam musnadnya, 1/413)</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[4]</p>
<p>Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa riwayat di atas terdapat ‘illah yaitu karena terdapat Yazid bin Khoshifah. Dalam riwayat Ahmad, beliau menyatakan bahwa Yazid itu munkarul hadits. Namun pernyataan ini tertolak dengan beberapa alasan:</p>
<p>1. Imam Ahmad sendiri menyatakan Yazid itu tsiqoh dalam riwayat lain.<br />
2. Ulama pakar hadits lainnya menyatakan bahwa Yazid itu tsiqoh. Ulama yang berpendapat seperti itu  adalah Ahmad, Abu Hatim dan An Nasai. Begitu pula yang menyatakan tsiqoh adalah Yahya bin Ma’in dan Ibnu Sa’ad. Al Hafizh Ibnu Hajar pun menyatakan tsiqoh dalam At Taqrib.<br />
3. Perlu diketahui bahwa Yazid bin Khoshifah adalah perowi yang dipakai oleh Al Jama’ah (banyak periwayat hadits).<br />
4. Imam Ahmad rahimahullah dan sebagian ulama di banyak keadaan kadang menggunakan istilah “munkar” untuk riwayat yang bersendirian dan bukan dimaksudkan untuk dho’ifnya hadits.[5]</p>
<p>Hadits di atas juga memiliki jalur yang sama dikeluarkan  oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro (2/496).</p>
<p>Riwayat riwayat di atas memiliki beberapa penguat di antaranya:</p>
<p>Pertama: Riwayat ‘Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya (4/260).</p>
<p>عن داود بن قيس وغيره عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أن عمر جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وعلى تميم الداري على إحدى وعشرين ركعة يقرؤون بالمئين وينصرفون عند فروع الفجر</p>
<p>Dari Daud bin Qois dan selainnya, dari Muhammad bin Yusuf, dari As Saib bin Yazid, ia berkata bahwa ‘Umar pernah mengumpulkan manusia di bulan Ramadhan, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari yang menjadi imam dengan mengerjakan shalat 21 raka’at. Ketika itu mereka membaca 200 ayat. Shalat tersebut baru bubar ketika menjelang fajar.</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.[6]</p>
<p>Kedua: Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya (2/163).</p>
<p>حدثنا وكيع عن مالك بن أنس عن يحيى بن سعيد أن عمر بن الخطاب أمر رجلا يصلي بهم عشرين ركعة</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Malik bin Anas, dari Yahya bin Sa’id, ia berkata, “’Umar bin Al Khottob pernah memerintah seseorang shalat dengan mereka sebanyak 20 raka’at.”</p>
<p>Yahya bin Sa’id adalah seorang tabi’in. Sehingga riwayat ini termasuk mursal (artinya tabi’in berkata langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebut sahabat).[7]</p>
<p>Setelah membawakan beberapa riwayat penguat (yang sengaja penulis menyebutkan beberapa saja), Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah lantas mengatakan, “Riwayat penguat ini semakin menguatkan riwayat shalat tarawih 20 raka’at.”[8]</p>
<p>Penjelasan di atas menunjukkan bahwa perbuatan sahabat di zaman ‘Umar bin Khottob bervariasi, kadang mereka melaksanakan 11 raka’at, kadang pula –berdasarkan riwayat yang shahih- melaksanakan 23 raka’at. Lalu bagaimana menyikapi riwayat semacam ini? Jawabnya, tidak ada masalah dalam menyikapi dua riwayat tersebut. Kita bisa katakan bahwa kadangkala mereka melaksanakan 11 raka’at, dan kadangkala mereka melaksanakan 23 raka’at dilihat dari kondisi mereka masing-masing.</p>
<p>Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro mengatakan,</p>
<p>وَيُمْكِنُ الْجَمْعُ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ ، فَإِنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ بِإِحْدَى عَشْرَةَ ، ثُمَّ كَانُوا يَقُومُونَ بِعِشْرِينَ وَيُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ</p>
<p>“Dan mungkin saja kita menggabungkan dua riwayat (yang membicarakan 11 raka’at dan 23 raka’at, -pen), kita katakan bahwa dulu para sahabat terkadang melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Di kesempatan lain, mereka lakukan 20 raka’at ditambah witir 3 raka’at.”[9]</p>
<p>Begitu pula Ibnu Hajar Al Asqolani juga menjelaskan hal yang serupa. Beliau rahimahullah mengatakan,</p>
<p>وَالْجَمْعُ بَيْن هَذِهِ الرِّوَايَات مُمْكِنٌ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَال ، وَيَحْتَمِل أَنَّ ذَلِكَ الِاخْتِلَافَ بِحَسَبِ تَطْوِيلِ الْقِرَاءَة وَتَخْفِيفِهَا فَحَيْثُ يُطِيلُ الْقِرَاءَة تَقِلُّ الرَّكَعَات وَبِالْعَكْسِ وَبِذَلِكَ جَزَمَ الدَّاوُدِيُّ وَغَيْره</p>
<p>“Kompromi antara riwayat (yang menyebutkan 11 dan 23 raka’at) amat memungkinkan dengan kita katakan bahwa mereka melaksanakan shalat tarawih tersebut dilihat dari kondisinya. Kita bisa memahami bahwa perbedaan (jumlah raka’at tersebut) dikarenakan kadangkala bacaan tiap raka’atnya panjang dan kadangkala pendek. Ketika bacaan tersebut dipanjangkan, maka jumlah raka’atnya semakin sedikit. Demikian sebaliknya. Inilah yang ditegaskan oleh Ad Dawudi dan ulama lainnya.”[10]</p>
<p>Beberapa Atsar Penguat</p>
<p>Pertama: Atsar Atho’ (seorang tabi’in) yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).</p>
<p>حدثنا بن نمير عن عبد الملك عن عطاء قال أدركت الناس وهم يصلون ثلاثة وعشرين ركعة بالوتر</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari ‘Abdul Malik, dari ‘Atho’, ia berkata, “Aku pernah menemukan manusia ketika itu melaksanakan shalat malam 23 raka’at dan sudah termasuk witir di dalamnya.”</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[11]</p>
<p>Kedua: Atsar dari Ibnu Abi Mulaikah yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).</p>
<p>حدثنا وكيع عن نافع بن عمر قال كان بن أبي مليكة يصلي بنا في رمضان عشرين ركعة</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Nafi’ bin ‘Umar, ia berkata, “Ibnu Abi Mulaikah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 20 raka’at”.</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[12]</p>
<p>Ketiga: Atsar dari ‘Ali bin Robi’ah yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).</p>
<p>حدثنا الفضل بن دكين عن سعيد بن عبيد أن علي بن ربيعة كان يصلي بهم في رمضان خمس ترويحات ويوتر بثلاث</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Dakin, dari Sa’id bin ‘Ubaid, ia berkata bahwa ‘Ali bi Robi’ah pernah shalat bersama mereka di Ramadhan sebanyak 5 kali duduk istirahat (artinya: 5 x 4 = 20 raka’at), kemudian beliau berwitir dengan 3 raka’at.</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[13]</p>
<p>Keempat: Atsar dari ‘Abdurrahman bin Al Aswad yang dikeluarkan dalam  Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).</p>
<p>حدثنا حفص عن الحسن بن عبيد الله قال كان عبد الرحمن بن الأسود يصلي بنا في رمضان أربعين ركعة ويوتر بسبع</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Hafsh, dari Al Hasan bin ‘Ubaidillah, ia berkata bahwa dulu ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 40 raka’at, lalu beliau berwitir dengan 7 raka’at.</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[14]</p>
<p>Kelima: Atsar tentang shalat tarawih di zaman ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz yang dikeluarkan dalam  Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).</p>
<p>حدثنا بن مهدي عن داود بن قيس قال أدركت الناس بالمدينة في زمن عمر بن عبد العزيز وأبان بن عثمان يصلون ستةة وثلاثين ركعة ويوترون بثلاث</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Daud bin Qois, ia berkata, “Aku mendapati orang-orang di Madinah di zaman ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan Aban bin ‘Utsman melaksanakan shalat malam sebanyak 36 raka’at dan berwitir dengan 3 raka’at.</p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[15]</p>
<p>Perkataan Para Ulama Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih</p>
<p>Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani,</p>
<p>وَعَنْ الزَّعْفَرَانِيِّ عَنْ الشَّافِعِيِّ &#8221; رَأَيْت النَّاس يَقُومُونَ بِالْمَدِينَةِ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِينَ وَبِمَكَّة بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ ، وَلَيْسَ فِي شَيْء مِنْ ذَلِكَ ضِيقٌ</p>
<p>Dari Az Za’faroniy, dari Imam Asy Syafi’i, beliau berkata, “Aku melihat manusia di Madinah melaksanakan shalat malam sebanyak 39 raka’at dan di Makkah sebanyak 23 raka’at. Dan sama sekali hal ini tidak ada kesempitan (artinya: boleh saja melakukan seperti itu, -pen).” [16]</p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan,</p>
<p>وليس في عدد الركعات من صلاة الليل حد محدود عند أحد من أهل العلم لا يتعدى وإنما الصلاة خير موضوع وفعل بر وقربة فمن شاء استكثر ومن شاء استقل</p>
<p>“Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.”[17]</p>
<p>Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,</p>
<p>لَمْ يُوَقِّتْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ عَدَدًا مُعَيَّنًا ؛ بَلْ كَانَ هُوَ &#8211; صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8211; لَا يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى ثَلَاثَ عَشْرَةِ رَكْعَةً لَكِنْ كَانَ يُطِيلُ الرَّكَعَاتِ فَلَمَّا جَمَعَهُمْ عُمَرُ عَلَى أبي بْنِ كَعْبٍ كَانَ يُصَلِّي بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً ثُمَّ يُوتِرُ بِثَلَاثِ وَكَانَ يُخِفُّ الْقِرَاءَةَ بِقَدْرِ مَا زَادَ مِنْ الرَّكَعَاتِ لِأَنَّ ذَلِكَ أَخَفُّ عَلَى الْمَأْمُومِينَ مِنْ تَطْوِيلِ الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ ثُمَّ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْ السَّلَفِ يَقُومُونَ بِأَرْبَعِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثِ وَآخَرُونَ قَامُوا بِسِتِّ وَثَلَاثِينَ وَأَوْتَرُوا بِثَلَاثِ وَهَذَا كُلُّهُ سَائِغٌ فَكَيْفَمَا قَامَ فِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ فَقَدْ أَحْسَنَ . وَالْأَفْضَلُ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ أَحْوَالِ الْمُصَلِّينَ فَإِنْ كَانَ فِيهِمْ احْتِمَالٌ لِطُولِ الْقِيَامِ فَالْقِيَامُ بِعَشْرِ رَكَعَاتٍ وَثَلَاثٍ بَعْدَهَا . كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ هُوَ الْأَفْضَلُ وَإِنْ كَانُوا لَا يَحْتَمِلُونَهُ فَالْقِيَامُ بِعِشْرِينَ هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ الَّذِي يَعْمَلُ بِهِ أَكْثَرُ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّهُ وَسَطٌ بَيْنَ الْعَشْرِ وَبَيْنَ الْأَرْبَعِينَ وَإِنْ قَامَ بِأَرْبَعِينَ وَغَيْرِهَا جَازَ ذَلِكَ وَلَا يُكْرَهُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ . وَقَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ . وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَ</p>
<p>“Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at. Akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab ditunjuk sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.</p>
<p>Sebagian salaf pun ada yang melaksanakan shalat malam sampai 40 raka’at, lalu mereka berwitir dengan 3 raka’at. Ada lagi ulama yang melaksanakan shalat malam dengan 36 raka’at dan berwitir dengan 3 raka’at.</p>
<p>Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.</p>
<p>Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.</p>
<p>Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.”[18]</p>
<p>Al Kasaani mengatakan, “’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”</p>
<p>Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”</p>
<p>Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”</p>
<p>‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”</p>
<p>Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.”[19]</p>
<p>Dalil Pendukung Lain, Shalat Malam Tidak Ada Batasan Raka’atnya</p>
<p>Pertama, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,</p>
<p>صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى</p>
<p>“Shalat malam itu dua raka&#8217;at-dua raka&#8217;at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka&#8217;at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.”[20] Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam akan menjelaskannya.</p>
<p>Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p>فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ</p>
<p>“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).”[21]</p>
<p>Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p>فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً</p>
<p>“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.”[22] Dalil-dalil ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kita dibolehkan memperbanyak sujud (artinya: memperbanyak raka’at shalat) dan sama sekali tidak diberi batasan.</p>
<p>Keempat, pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.</p>
<p>Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana kaedah yang diterapkan dalam ilmu ushul.</p>
<p>Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. &#8230; Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.”[23]</p>
<p>Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada dalil yang bertentangan.</p>
<p>Kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan.</p>
<p>Keenam, manakah yang lebih utama melakukan shalat malam 11 raka&#8217;at dalam waktu 1 jam ataukah shalat malam 23 raka&#8217;at yang dilakukan dalam waktu dua jam atau tiga jam?</p>
<p>Yang satu mendekati perbuatan Nabi shallalahu &#8216;alaihi wa sallam dari segi jumlah raka&#8217;at. Namun yang satu mendekati ajaran Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dari segi lamanya. Manakah di antara kedua cara ini yang lebih baik?</p>
<p>Jawabannya, tentu yang kedua yaitu yang shalatnya lebih lama dengan  raka&#8217;at yang lebih banyak. Alasannya, karena pujian Allah terhadap orang yang waktu malamnya digunakan untuk shalat malam dan sedikit tidurnya. Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p>كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ</p>
<p>“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (QS. Adz Dzariyat: 17)</p>
<p>وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا</p>
<p>“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian  yang panjang dimalam hari.” (QS. Al Insan: 26)</p>
<p>Oleh karena itu, para ulama ada yang melakukan shalat malam hanya dengan 11 raka&#8217;at namun dengan raka&#8217;at yang panjang. Ada pula yang melakukannya dengan 20 raka&#8217;at atau 36 raka&#8217;at. Ada pula yang kurang atau lebih dari itu. Mereka di sini bukan bermaksud menyelisihi ajaran Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Namun yang mereka inginkan adalah mengikuti maksud Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yaitu dengan mengerjakan shalat malam dengan thulul qunut (berdiri yang lama).</p>
<p>Sampai-sampai sebagian ulama memiliki perkataan yang bagus, “Barangsiapa yang ingin memperlama berdiri dan membaca surat dalam shalat malam, maka ia boleh mengerjakannya dengan raka&#8217;at yang sedikit. Namun jika ia ingin tidak terlalu berdiri dan membaca surat, hendaklah ia menambah raka&#8217;atnya.”</p>
<p>Mengapa ulama ini bisa mengatakan demikian? Karena yang jadi patokan adalah lama berdiri di hadapan Allah ketika shalat malam.[24]</p>
<p>Yang Jadi Masalah</p>
<p>Setelah pemaparan kami di atas, sebenarnya yang jadi masalah bukanlah kuantitas shalat tarawih. Yang lebih dituntunkan bagi kita adalah mendekati kualitas Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat tarawih atau shalat malam. Sehingga tidak tepat jika melaksanakan 11 raka’at namun kualitas shalatnya jauh sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula tidak tepat jika melaksanakan shalat 23 raka’at namun kualitasnya pun amat jauh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena memang pilihan para sahabat di masa Umar dan ini juga dipilih oleh kebanyakan ulama adalah ingin mendekati kualitas shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hanya kejar kuantitas. Ini yang benar-benar harus kita pahami.</p>
<p>Sehingga tidak tepat jika shalat tarawih atau shalat malam yang dilakukan begitu cepat, secepat kilat, seperti ayam “matuk”. Ini kan sama saja tidak ada thuma’ninah. Padahal thuma’ninah adalah bagian dari rukun shalat. Artinya jika tidak ada thuma’ninah, shalatnya hanya sia-sia. Namun demikianlah yang sering terjadi pada shalat tarawih 23 raka’at di tempat kita. Inilah yang jadi masalah.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ</p>
<p>“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.”[25]</p>
<p>Dari Abu Hurairah, beliau berkata,</p>
<p>عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا</p>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.”[26] Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits  di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’  dan sujud.[27]</p>
<p>Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan.</p>
<p>Dari sini, jika memang kita dapati imam yang shalatnya terlalu cepat, sebaiknya tidak bermakmum di belakangnya. Carilah jama’ah yang lebih thuma’ninah.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Demikian sajian kami tentang shalat tarawih bahwa sebenarnya tidak ada masalah dalam kuantitas raka’at, baik 11 atau 23 raka’at tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah sebagaimana yang kami sebutkan di atas. Sehingga tidaklah tepat jika shalat tarawih 23 raka’at dikatakan bid’ah. Lihat saja sejak masa sahabat dan tabi’ain mereka pun melaksanakan shalat malam lebih dari 11 raka’at.</p>
<p>Dari sini juga tidaklah tepat jika seseorang bubar terlebih dahulu pada shalat imam padahal masih 8 raka’at karena ia berkeyakinan bahwa shalat malam hanya 11 raka’at sehingga ia tidak mau mengikuti shalat imam yang 23 raka’at. Jika memang shalat imam itu thuma’ninah, maka bermakmum di belakangnya adalah pilihan yang tepat. Jika seseorang bubar dulu sebelum imam selesai, sungguh ia telah kehilangan pahala yang teramat besar sebagaimana disebutkan dalam hadits,</p>
<p>إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً</p>
<p>“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”[28] Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam, meskipun itu 23 raka’at. Itulah yang lebih tepat selama shalat 23 raka’at itu thuma’ninah. Jika shalatnya terlalu cepat, sebaiknya cari jama’ah yang lebih thuma’ninah dalam kondisi seperti itu.<br />
Sebenarnya dalam permalasalahan jumlah raka&#8217;at shalat tarawih tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada masalah dengan 23 raka&#8217;at atau 11 raka&#8217;at.</p>
<p>Semoga kita bisa semakin tercerahkan dengan tulisan berikut.</p>
<p>***</p>
<p>Shalat Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p>Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,<br />
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)</p>
<p>As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak   melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”</p>
<p>Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)<br />
Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan</p>
<p>Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.</p>
<p>‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)<br />
Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,<br />
كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ</p>
<p>“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah).<br />
Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at?</p>
<p>Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan  bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)<br />
Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.</p>
<p>Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,<br />
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ</p>
<p>“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,<br />
فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ</p>
<p>“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)</p>
<p>Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,<br />
فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً</p>
<p>“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)</p>
<p>Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal:</p>
<p>Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.</p>
<p>Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.</p>
<p>Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. &#8230; Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)<br />
Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.</p>
<p>Kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)</p>
<p>Keenam, telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)</p>
<p>Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)<br />
Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih</p>
<p>Jadi, shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat.</p>
<p>Pendapat pertama, yang membatasi hanya sebelas raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.</p>
<p>Pendapat kedua, shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.<br />
Al Kasaani mengatakan, “’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”<br />
Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”<br />
Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”<br />
‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”<br />
Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)</p>
<p>Pendapat ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)</p>
<p>Pendapat keempat, shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267)<br />
Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,<br />
“Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.<br />
Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.<br />
Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)<br />
Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini.  Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah.<br />
Orang yang keluar dari jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir juga telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at- akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memafkan kami dan juga mereka.<br />
Yang Paling Bagus adalah Yang Panjang Bacaannya<br />
Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun berdirinya agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.<br />
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ</p>
<p>“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)</p>
<p>Dari Abu Hurairah, beliau berkata,<br />
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا</p>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits  di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’  dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah)<br />
Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.<br />
**diambil dari tulisan Muhammad Abduh Tuasikal. http://rumaysho.com</p>
<p>(1)Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Hal ini merupakan  dalil tegas bahwa shalat di akhir malam lebih afhdol daripada di awal  malam. Namun hal ini bukan berarti memaksudkan bahwa shalat sendirian  lebih afdhol dari shalat secara berjama’ah.”</p>
<p>(Fathul Bari, Ibnu Hajar Al  Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 4/253)</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref2">[2]</a> Fathul Bari, 4/253.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref3">[3]</a> ‘Adadu Raka’at Qiyamil Lail, Musthofa Al ‘Adawi, Daar Majid ‘Asiri, hal. 36.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref4">[4]</a> Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 36.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref5">[5]</a> Lihat catatan kaki Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 37.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref6">[6]</a> Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 39.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref7">[7]</a> Idem.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref8">[8]</a> Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 40.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref9">[9]</a> Sunan Al Baihaqi Al Kubro, Al Baihaqi, Maktabah Darul Baaz, 2/496.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref10">[10]</a> Fathul Bari, 4/253.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref11">[11]</a> Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 46.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref12">[12]</a> Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 47.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref13">[13]</a> Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 47.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref14">[14]</a> Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 48.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref15">[15]</a> Adadu Raka’at Qiyamil Lail, hal. 48.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref16">[16]</a> Fathul Bari, 4/253.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref17">[17]</a> At Tamhid, 21/70.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref18">[18]</a> Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H, 22/272.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref19">[19]</a> Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9636</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref20">[20]</a> HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu &#8216;Umar.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref21">[21]</a> HR. Muslim no. 489</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref22">[22]</a> HR. Muslim no. 488</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref23">[23]</a> Majmu’ Al Fatawa, 22/272.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref24">[24]</a> Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/414-416 dan At Tarsyid, hal. 146-149.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref25">[25]</a> HR. Muslim no. 756</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref26">[26]</a> HR. Bukhari no. 1220 dan Muslim no. 545.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref27">[27]</a> Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html#_ftnref28">[28]</a> HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Hadits ini shahih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/481/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=481&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/11/jumlah-rakaat-shalat-tarawih-11-atau-23-rakaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/08/berupaya-menghidupkan-sunnah-di-atas-jalan-nubuwwah-kisah-palsu-dunia-wanita-hukum-islam-kaidah-fiqh-keluarga-nasehat-kegiatan-mar-9-thola%e2%80%99al-badru/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/08/berupaya-menghidupkan-sunnah-di-atas-jalan-nubuwwah-kisah-palsu-dunia-wanita-hukum-islam-kaidah-fiqh-keluarga-nasehat-kegiatan-mar-9-thola%e2%80%99al-badru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 03:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah palsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf A. Al Kisah Konon diceritakan bahwa setelah Rosululloh dan Abu Bakr menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, ditengah-tengah intaian kaum kuffar Quraisy, maka akhirnya Alloh menyelamatkan mereka hingga sampai ke Kota Madinah. Di sisi kisah yang lainnya para penduduk kota Madinah, dari kaum laki-laki, wanita dan anak-anak setiap harinya keluar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=491&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>oleh: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf</h3>
<h3>A. Al Kisah</h3>
<p>Konon diceritakan bahwa setelah Rosululloh dan Abu Bakr menempuh  perjalanan panjang yang melelahkan, ditengah-tengah intaian kaum kuffar  Quraisy, maka akhirnya Alloh menyelamatkan mereka hingga sampai ke Kota  Madinah. Di sisi kisah yang lainnya para penduduk kota Madinah, dari  kaum laki-laki, wanita dan anak-anak setiap harinya keluar rumah menuju  pingiran kota untuk menunggu kedatangan beliau, kalau sampai sore hari  belum ada tanda-tanda kedatangan beliau maka mereka pulang dengan  perasaan kecewa. Sehingga suatu ketika dari jauh kelihatan ada debu yang  berterbangan, semakin lama semakin dekat, mereka berharap-harap cemas  siapakah gerangan yang datang tersebut ? Alangkah bahagianya mereka  tatkala mengetahui bahwa yang datang adalah Rosululloh, manusia agung  yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya, lalu mereka semua  menyenandungkan gubahan bait syair berikut ini :</p>
<blockquote>
<h2>من ثنيات الوداع    O   طلع البدر علينا<br />
ما دعا لله داع   O   وجب الشكر علينا<br />
جئت بالأمر المطاع    O    أيها المبعوث فينا</h2>
<p>Telah muncul purnama kepada kita<br />
Dari daerah Tsaniyatul Wada’<br />
Wajiblah bagi kita untuk bersyukur<br />
Selagi masih ada orang yang berdo’a kepada Alloh.<br />
Wahai orang yang diutus kepada kami<br />
Engkau telah datang dengan perkara yang ditaati</p></blockquote>
<h3>B. Kemasyhuran Kisah Ini</h3>
<p>Saya rasa tidak ada seorangpun yang tidak mengenal kisah ini, karena  hampir disemua kitab sejarah yang menceritakan tentang kedatangan  Rosululloh ke kota Madinah dalam perjalanan hijroh agung beliau. Bahkan  senandung bait syair ini sudah menjadi bahan nyanyian sebagian kaum  muslimin, mereka menganggapnya sebagai sebuah nyanyain yang islami (?),  karena bait syair ini dalam angapan mereka adalah untuk menyambut  kedatangan Rosululloh saat perjalanan hijroh beliau. Wallohul Musta’an</p>
<p>Sampai-sampai beberapa kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama’  sunnah pun  menyebutkan kisah ini, diantaranya adalah yang disebutkan  oleh <strong>Syaikh Shofiyyur Rohman Al Mubarokfuri</strong> dalam Ar  Rohiqul Makhtum, beliau berkata  pada bab : Masuk ke kota Madinah :  “Saat itu adalah hari yang cemerlang dalam catatan sejarah, rumah-rumah  dan gang-gang  bergetar karena gema suara  pujian kepada Alloh, lalu  anak-anak wanita anshor dengan perasaan suka cita yang menggelora,  mereka bernyanyi menyenandungkan ….(lalu beliau menyebutkan syair  diatas).”</p>
<h3>C.Derajat Kisah</h3>
<p><strong>Kisah ini lemah</strong></p>
<p><strong>Takhrij kisah ini :</strong> (1)</p>
<p><span id="more-491"></span></p>
<p>Diriwayatkan oleh <strong>Abul Hasan Al Khol’i</strong> dalam Al Fawa’id 2/59, <strong>Baihaqi</strong> dalam Dala’ilun Nubuwah 2/233 beliau berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami <strong>Abu Amr al Adib</strong> berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami <strong>Abu Bakr al Isma’ili</strong> berkata : Saya medengar <strong>Abu Kholifah</strong> berkata : Saya mendengar <strong>Ibnu Aisyah</strong> berkata : Tatkala Rosululloh datang ke kota Madinah mana anak-anak dan wanita bersenandung …..”</p>
<p>Sanad hadits ini lemah karena <strong>Ibnu Aisyah</strong> yang beliau bernama <strong>Ubaidillah bin Muhammad bin Aisyah</strong>, sebagaimana yang dikatakan oleh <strong>Imam Al Mizzi</strong> dalam Tahdzibul Kamal no : 4262 : <strong>Ubaidilah bin Muhammad bin Hafsh bin Umar bin Musa  bin Ubaidillah bin Ma’mar Al Qurosyi at Taimi</strong>, <strong>Abu Abdir Rohman  Al Bashri</strong>. Dia lebih dikenal dengan nama <strong>Al ‘Aisyi</strong> dan <strong>Ibnu ‘Aisyah</strong>, karena dia adalah anak keturunan <strong>Aisyah binti Tholhah bin Ubaidillah.</strong></p>
<p>Dia termasuk gurunya <strong>Imam Ahmad bin Hanbal</strong> dan termasuk orang yang mengambil hadits dan meriwayatkannya dari Tabiut tabi’in.</p>
<p>Jadi sanad ini terputus tiga tingkatan secara berurutan , yaitu  sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in, dan hadits dengan sanad semacam  inilah yang oleh para ulama’ hadits dinamakan dengan <strong>mu’dhol</strong>, sedangkan mu’dhol, adalah sebuah hadits yang lemah.</p>
<p>Berkata <strong>As Sakhowi</strong> dalam Fathul Mughits 1/185 :  “Mu’dhol dalam istilah para ulama’ adalah : Hadits yang sanadnya  terputus dua orang atau lebih secara berurutan.”</p>
<p>Dengan sebab inilah para ulama’ melemahkan kisah ini, meskipn sangat masyhur. Diantara mereka adalah <strong>Imam Al ‘Iroqi</strong> dalam takhrij ihya’ 2/244, <strong>Al Albani</strong> dalam Adh Dho’ifah  no : 598, <strong>Ibnul Qoyyim</strong> dalam Zadul Ma’ad 3/10, <strong>Ibnu Hajar</strong> dalam Fathul Bari dan lainnya.</p>
<p><strong>Sisi kelemahan  lainnya :</strong></p>
<p>Kisah ini pun lemah kalau kita tinjau dari sisi matannya yaitu :  bahwa daerah Tsaniyatul wada’ adalah sebuah daerah yang berada di  sebelah utara kota Madinah, sedangkan Makkah berada disebelah selatan  Madinah. Dan orang  Mekah yang akan menuju ke Madinah tidak akan pernah  melewati daerah Tsaniyatul wada’. Inilah yang diisyaratkan oleh <strong>Imam Ibnul Qoyyim</strong> dalam Zadul Ma’ad, beliau berkata :</p>
<blockquote><p>“Sebagian perowi salah tatkala  meriwayatkan kisah ini terjadi saat kedatangan beliau dari Mekkah ke  Madinah. ini adalah sebuah kesalahan yang sangat nyata, karena daerah  Tsaniyatul wada’ berada  diarah Syam, daerah ini tidak akan pernah  dilihat oleh orang yang datang dari Mekkah ke Madinah, dan tidak  akan  dilewati kecuali oleh orang yang berangkat dari Madinah menuju Syam.”</p>
<p>(Lihat Zadul Ma’ad 3/10)</p></blockquote>
<h3>D. Bersama al Ghozali dan kitab beliau  Ihya’ Ulumuddin</h3>
<p>Kisah ini digunakan dalil oleh Imam Al Ghozali dalam kitab tenar  beliau Ihya’ ulumuddin 2/275 untuk menghalalkan nyanyian dan musik.  Beliau berkata :</p>
<blockquote><p>“Sisi dibolehkannya nyanyian adalah bahwa  nyanyian adalah sesuatu yang bisa membangkitkan rasa senang dan  gembira, maka semua yang boleh untuk bersenang senang dengannya maka  boleh pula unytuk membangkitkan rasa senang dengan sesuatu tersebut. Dan  yang menunjukkan akan bolehnya hal ini adalah riwayat yang menyatakan  bahwa saat kedatangan Rosululloh ke kota Madinah maka para wanita  menabuh duff (semacam gendang  tanpa suara gemerincing) dan  menyenandungkan :</p>
<h2>من ثنيات الوداع    O   طلع البدر علينا<br />
ما دعا لله داع   O   وجب الشكر علينا</h2>
</blockquote>
<p><strong>Nukilan dari Imam Al Ghozali ini salah tiga sisi :</strong></p>
<p><strong>Pertama </strong>: kisah ini adalah lemah, sebagaimana keterangan diatas<br />
<strong>Kedua</strong> : beliau menambah dalam riwayat tersebut lafadz  yang tidak ada asal usulnya yaitu : “ …….. maka para wanita menabuh duff  (semacam gendang  tanpa suara gemerincing) dan menyenandungkan  …..”<br />
Tambahan yang tidak ada asal usulnya ini sering digunakan oleh sebagian  kalangan untuk menghalalkan musik, padahal tambahan ini tidak ada asal  usulnya.</p>
<p>Berkata <strong>Imam Al ‘iroqi</strong> dalam Takhrij Ihya’ (2/275) :</p>
<blockquote><p>“Hadits tentang para wanita yang  bersenandung saat kedatangan Rosululloh ini diriwayatkan oleh Baihaqi  dalam Dala’ilun Nubuwah secara mu’dhol, namun tidak terdapat adanya  menabuh duff dan nyanyian.”</p></blockquote>
<p>Berkata <strong>Syaikh Al Albani</strong> :</p>
<blockquote><p>“Al Ghozali menyebutkan kisah ini dan  menambah dengan menyebut adanya “ menabuh duff dan nyanyian.” Padahal  tambahan ini tidak ada asal usulnya sebagaimana yang disebutkan oleh Al  Hafidl Al ‘iroqi. Banyak orang yang tertitpu dengan tambahan ini,  sehingga ada sebagian kalangan yang menyebutkan kisah ini sebagai dalil  bolehnya nyanyian, padahal seandainyapun hadits ini shohih, maka ini  bukan dalil  atas kebenaran pendapat mereka.”</p></blockquote>
<p><strong>Ketiga</strong> : beliau membolehkan nyanyian dan musik,  padahal keduanya sangat jelas keharamannya sebagaimana yang ditegaskan  oleh Rosululloh dalam banyak haditsnya. Diantaranya adalah :</p>
<p><strong>Pertama :</strong></p>
<blockquote>
<h2>عن أبي مالك الأشعري قال : ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف</h2>
<p>Dari Abu Malik al Asy’ari berkata :  “Rosululloh bersabda : “Sungguh akan ada sekelompok dari umatku yang  menganggap halal zina, sutra, khomer (minuman keras) dan alat musik.”</p>
<p>(HR. Bukhori : 5590)</p></blockquote>
<p>Al Ma’azif adalah alat musik. Berkata <strong>Imam Ibnul Qoyyim</strong> : dia adalah semua alat musik, tidak ada perselisihan diantara para ulama’ bahasa mengenai arti ini.”</p>
<p><strong>Kedua :</strong></p>
<blockquote>
<h2>عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال  رسول الله صلى الله عليه وسلم : صوتان ملعونان في الدنيا والآخرة : مزمار  عند نعمة ورنة عند مصيبة</h2>
<p>Dari Anas bin Malik berkata : “Rosululloh  bersabda : “Dua suara yang dilaknat didunia dan akhirat, yaitu bunyi  seruling ketika mendapatkan nikmat dan rintihan ketika mendapatkan  mushibah.”</p>
<p>(Shohih riwayat Al Bazzar dalam musnad beliau 1/377, Abu Bakr Asy Syafi’i 2.22, Dliya’ al Maqdsi 6/188)</p></blockquote>
<p><strong>Ketiga :</strong></p>
<blockquote>
<h2>عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  إن الله حرم علي الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام</h2>
<p>Dari Abdulloh bin Abbas berkata :  “Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya Alloh mengharamkan kepadaku khomer,  judi, gendang dan setiap yang memabukkan adalah harom.”</p>
<p>(Shohih riwayat Abu Dawud : 3696, Baihaqi 10/221, Ahmad 1/274, Abu Ya’la : 2729, Ibnu Hibban : 5341)</p></blockquote>
<p><strong>Keempat :</strong></p>
<blockquote>
<h2>عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله  عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الله عز وجل حرم الخمر  والميسر والكوبة والغبيراء وكل مسكر حرام</h2>
<p>Dari Abdulloh bin Amr bin Ash bahwasannya  Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya Alloh mengharamkan khomer, judi,  gendang, ghubairo’ (minuman memabukkan yang terbuat dari jagung) dan  setiap yang memabukkan adalah harom.”</p>
<p>(Hadits hasan riwayat Abu Dawud : 3685, Thohawi 2/325, Baihaqi 10/221, Ahmad 2/157)</p></blockquote>
<p><strong>Kelima :</strong></p>
<blockquote>
<h2>عن عمران بن حصين قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” يكون في أمتي قذف ومسخ وخسف ”<br />
قيل : يا رسول الله ومتى ذاك ؟ قال :  إذا ظهرت المعازف وكثرت القيان وشربت الخمور</h2>
<p>Dari Imron bin Hushoin berkata :  “Rosululloh bersabda : “Akan terjadi pelemparan pada ummatku, dirubahnya  manusia menjadi bentuk lain dan gempa. Beliau ditanya : “Kapankah itu  terjadi wahai Rosululloh ?.” beliau menjawab : “Jika alat musik telah  semarak, banyaknya penyanyi dan khomer di tenggak.”</p>
<p>(Hadits hasan riwayat Tirmidzi : 2213, Ibnu Abid Dunya 1/2 , Abu Amr Ad Dani 1/39, Ibnu Najjar 18/251)</p></blockquote>
<p><strong>Hadits-hadits ini sangat tegas menunjukkan haramnya musik,  maka seandainyapun riwayat tadi shohih, maka sama sekali tidak bisa  dibawa kepada apa yang dilakukan oleh orang-orang yang membolehkan musik  saat ini yang mereka namakan dengan musik atau nasyid islami (?).</strong></p>
<p>(Lihat masalah ini dengan terperinci para Tahrim Alat Thorb oleh  Syaikh Al Albani juga tulisan akhuna Al Ustadz Abu Abdillah pada edisi …  tahun …. Rubrik Tazkiyatun Nafs)</p>
<h3>Kisah lain yang juga lemah</h3>
<p>Dari <strong>Anas</strong> berkata :</p>
<blockquote><p>Rosululloh datang ke kota Madinah, maka  tatkala beliau sudah masuk kota, maka seluruh penduduk Madinah yang  laki-laki maupun wanita berkata : Kemari wahai Rosululloh.” maka beliau  bersabda : “Biarkan onta ini, karena dia sedang diperintah.” Ternyata  unta tersebut berhenti di pintu rumahnya Abu Ayyub. Maka keluarlah  wanita-wanita Bani Najjar sambil menabuh duff sambil bersenandung :</p>
<h2>يا حبذا محمد من جار     O    نحن جوار من بني النجار</h2>
<p>Kami adalah wanita-wanita Bani Najjar<br />
Alangkah bagusnya bertetangga dengan Muhammad</p>
<p>Maka Rosululloh keluar menemui mereka dan bersabda : “Apakah kalian  mencintaiku ?. mereka menjawab : “Benar, wahai Rosululloh.” Maka  Rosululloh bersabda : “Demi Alloh, sayapun mencintai kalian. Demi Alloh  sayapun mencintai kalian.”</p></blockquote>
<p>Kisah ini diriwayatkan oleh <strong>Baihaqi</strong> dalam Dalailun Nubuwwah  2/508. beliau berkata : telah menghabarkan kepada saya <strong>Abul Hasan Ali bin Umar</strong> berkata : Telah menceritakan kepada kami <strong>Abu Abdillah Abdulloh bin Mukhollad Ad Dauri</strong> berkata : ” telah menceritakan kepada kami <strong>Muhammad bin Sulaiman</strong> berkata : ” telah menceritakan kepada kami <strong>Ibrohim bin Shirmah</strong> berkata : “telah menceritakan kepada kami <strong>Yahya bin Sa’id</strong> dari <strong>Ishaq bin Abdillah bin Abu Tholhah</strong> dari <strong>Anas</strong> berkata : ….”</p>
<p>Hadits  lebih lemah dari yang sebelumnya, karena <strong>Ibrohim bin Shirmah</strong> adalah seorang pendusta.</p>
<p>Berkata <strong>Imam Adz Dzahabi</strong> : <strong>Ibrohim bin Shirmah al Anshori</strong> dari <strong>Yahya bin Sa’id</strong> dilemahkan oleh <strong>Daruquthni</strong> dan lainnya. Berkata <strong>Ibnu Adi</strong> : secara umum haditsnya munkar baik matan maupun sanadnya. Berkata <strong>Ibnu Ma’in</strong> : Dia pendusta yang keji.”.</p>
<h3>.</h3>
<h3>E. Kisah yang sebenarnya</h3>
<p>Setelah mengetahui kelemahan kisah diatas, maka secara wajar akan  muncul sebuah pertanyaaan : Lalu bagaimana sebenarnya kejadian yang  sebenarnya saat kedatangan Rosululloh di kota Madinah, apa yang  dilakukan oleh penduduk Madinah saat itu ?</p>
<p>Tidak cukup tempat untuk memaparkan kejadian kisah hijroh Rosululloh  yang penuh dengan ibroh, silahkan dilihat pada kitab-kitab para ulama’  yang terpercaya. Di antaranya lihatlah shohih Bukhori kitab Manaqib  Anshor bab kedatangan Rosululloh dan para sahabatnya ke Madinah. Juga  apa yang diriwayatkan oleh <strong>Imam Muslim</strong> bab haditsul hijroh, juga kitab-kitab siroh nabawiyyah yang shohih lainnya.”</p>
<p><em>Wallohu a’lam</em></p>
<p>(1) Takhrij ini saya ramu dari silsilah Tahdzir Da’iyah oleh <strong>Syaikh Ali Hasyisy</strong> dalam Majalah Tauhid Mesir dan Adh Dho’ifah <strong>Syaikh Al Albani</strong> no : 589</p>
<p>http://ahmadsabiq.com/2010/03/09/thola%E2%80%99al-badru-%E2%80%98alaina-%E2%80%A6-senandung-penduduk-kota-madinah-saat-menyambut-kedatangan-rosululloh/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=491&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/08/08/berupaya-menghidupkan-sunnah-di-atas-jalan-nubuwwah-kisah-palsu-dunia-wanita-hukum-islam-kaidah-fiqh-keluarga-nasehat-kegiatan-mar-9-thola%e2%80%99al-badru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hak Suami Istri</title>
		<link>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/07/15/hak-suami-istri/</link>
		<comments>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/07/15/hak-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 16:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[wanita dan pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[hak istri]]></category>
		<category><![CDATA[hak suami]]></category>
		<category><![CDATA[pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayahantari.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Wahai isteri yang shalihah, ini adalah hak-hak suami atasmu. Bersungguh-sungguhlah dalam menunaikan hak-hak tersebut dan lupakanlah jika suamimu kurang dapat memenuhi hak-hakmu karena sesungguhnya yang demikian itu akan dapat melanggengkan cinta dan kasih sayang di antara kalian, dapat memelihara keharmonisan rumah tangga sehingga dengannya masyarakat akan menjadi baik pula. 1 Wanita yang cerdas dan pandai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=459&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Wahai isteri yang shalihah, ini adalah hak-hak suami atasmu.  Bersungguh-sungguhlah dalam menunaikan hak-hak tersebut dan lupakanlah  jika suamimu kurang dapat memenuhi hak-hakmu karena sesungguhnya yang  demikian itu akan dapat melanggengkan cinta dan kasih sayang di antara  kalian, dapat memelihara keharmonisan rumah tangga sehingga dengannya  masyarakat akan menjadi baik pula.</p></blockquote>
<p>1 Wanita yang cerdas dan pandai akan  mengagungkan apa yang telah diagungkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan  menghormati suaminya dengan sebenar-benarnya, ia bersungguh-sungguh  untuk selalu taat kepada suami karena ketaatan kepada suami termasuk  salah satu di antara syarat masuk Surga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi  wasallam,</p>
<p><em>“Apabila seorang wanita mau menunaikan shalat lima waktu,  berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat terhadap  suaminya, maka akan dikatakan kepadanya (di akhirat), ‘Masuklah ke Surga  dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.”</em> [Shahih:  <em>Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir</em> (no. 660), Ahmad (XVI/228, no.  250)]</p>
<p>Maka kewajibanmu sebagai seorang isteri, wahai para wanita shalihah,  adalah untuk selalu mendengar dan taat terhadap setiap perintah suami  selama tidak menyelisihi syari’at. Akan tetapi berhati-hatilah, jangan  sampai engkau berlebih-lebihan dalam mentaati perintah suami sehingga  mau mentaatinya dalam kemaksiatan. Karena sesungguhnya jika melakukan  hal tersebut, maka engkau telah berdosa.</p>
<p><span id="more-459"></span></p>
<p>2 Di antara hak suami atas isteri, seorang  isteri harus menjaga kehormatan dan memelihara kemuliaannya serta  mengurusi harta, anak-anak, dan segala hal yang berhubungan dengan  pekerjaan rumah, sebagaimana firman Allah Ta’ala,</p>
<p><em>“Sebab itu, maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah  lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah  memelihara (mereka).”</em> [QS. An-Nisaa': 34]</p>
<p>Dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,</p>
<p><em>“Dan seorang isteri adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan  ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”</em> [Muttafaq 'alaih: <em>Shahiih al-Bukhari</em> (II/380  no. 893), <em>Shahiih Muslim</em> (III/1459 no. 1829)]</p>
<p>3 Berhias dan memperindah diri untuk  suami, selalu senyum dan jangan bermuka masam di depannya. Jangan sampai  menampakkan keadaan yang tidak ia sukai. Ath-Thabrani telah  mengeluarkan sebuah hadits dari ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu’anhu,  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p><em>“Sebaik-baik isteri ialah yang engkau senang jika melihatnya,  taat jika engkau perintah dan menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau  pergi.”</em>[Shahiih: <em>Shahiih al-Jaami'ish  Shaghiir</em> (no. 3299)]</p>
<p>Janganlah engkau sekali-kali menampakkan perhiasan pada orang yang  tidak boleh melihatnya, karena hal itu adalah merupakan perkara yang  diharamkan.</p>
<p>4 Isteri harus selalu berada di dalam  rumahnya dan tidak keluar meskipun untuk pergi ke masjid kecuali atas  izin suami. Allah berfirman,</p>
<p><em>“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.”</em> [QS. Al-Ahzaab: 33]</p>
<p>5 Janganlah seorang isteri memasukkan  orang lain ke dalam rumah kecuali atas izinnya. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p><em>“Hak kalian atas para isteri adalah agar mereka tidak memasukkan  ke dalam kamar tidur kalian orang yang tidak kalian sukai dan agar  mereka tidak mengizinkan masuk ke dalam rumah kalian bagi orang yang  tidak kalian sukai.”</em> [Hasan: <em>Shahiih Sunan  Ibni Majah</em> (no. 1501), <em>Sunan at-Tirmidzi</em> (II/315 no.  1173), <em>Sunan Ibni Majah</em> (I/594 no. 1851)]</p>
<p>6 Isteri harus menjaga harta suami dan  tidak menginfaqkannya kecuali dengan izinnya. Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p><em>“Janganlah seorang isteri menginfaqkan sesuatu pun dari harta  suaminya kecuali atas izinnya.”</em> Kemudian ada yang bertanya, “tidak  juga makanan?” Beliau menjawab, <em>“bahkan makanan adalah harta yang  paling berharga.”</em> [Hasan : <em>Shahiih Sunan  Ibni Majah</em> (no. 1859), <em>Sunan at-Tirmidzi</em> (III/293 no.  2203), <em>Sunan Abi Dawud</em> (IX/478 no. 3548), <em>Sunan Ibni Majah</em> (II/770 no. 2295)]</p>
<p>Bahkan di antara hak suami atas isteri adalah agar ia tidak  menginfaqkan harta miliknya jika ia mempunyai harta kecuali jika sang  suami mengizinkannya karena dalam sebuah hadist yang lain Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p><em>“Janganlah seorang isteri menggunakan sesuatu  pun dari hartanya  kecuali dengan izin suaminya.”</em> [Dikeluarkan  oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah</em> (no. 775), beliau berkata, "Telah dikeluarkan oleh Tamam dalam <em>al-Fawaa-id</em> (II/182 no. 10) dari jalan 'Anbasah bin Sa'id dari Hammad, <em>maula</em> (budak yang dibebaskan). Bani Umayyah dari Janaah <em>maula</em> al-Walid dari Watsilah, ia berkata, "Rasulullah shalallahu 'alaihi  wasallam bersabda, kemudian ia menyebutkan hadits tersebut." Beliau  (al-Albani) berkata, "Sanad hadits ini lemah, akan tetapi ada beberapa  riwayat penguat yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah <em>tsabit</em>."]</p>
<p>7 Janganlah seorang isteri melakukan puasa  sunnah sedangkan suami berada di rumah kecuali dengan izinnya,  sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,</p>
<p><em>“Tidak boleh bagi isteri melakukan puasa (sunnah) sedangkan  suaminya ada kecuali dengan izinnya.”</em> [Mutaffaq  'alaih: <em>Shahiih al-Bukhari</em> (IX/295 no. 5195), <em>Shahiih  Muslim</em> (no. 1026)]</p>
<p>8 Janganlah seorang isteri  mengungkit-ungkit apa yang pernah ia berikan dari hartanya untuk suami  maupun keluarga karena menyebut-nyebut pemberian akan dapat membatalkan  pahala. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><em>“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)  sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan (si  penerima).”</em> [QS. Al-Baqarah: 264]</p>
<p>9 Isteri harus ridha dan menerima apa  adanya, janganlah ia membebani suami dengan sesuatu yang ia tidak mampu.  Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><em>“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.  Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta  yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada  seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah  kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”</em> [QS.  Ath-Thalaq: 7]</p>
<p>10 Isteri harus bersungguh-sungguh  mendidik anak-anaknya dengan kesabaran. Janganlah ia marah kepada mereka  di depan suami dan jangan memanggil mereka dengan kejelekan maupun  mencaci-maki mereka karena yang demikian itu akan dapat menyakiti hati  suami.</p>
<p>11 Isteri harus dapat berbuat baik kepada  kedua orang tua dan kerabat suami karena sesungguhnya isteri tidak  dianggap berbuat baik kepada suami jika ia memperlakukan orang tua dan  kerabatnya dengan kejelekan.</p>
<p>12 Janganlah isteri menolak jika suami  mengajaknya melakukan hubungan intim karena Rasulullah shalallahu  ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p><em>“Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur, tapi  ia menolak untuk datang lalu sang suami marah sepanjang malam maka para  Malaikat melaknatnya (sang isteri) hingga datang waktu pagi.”</em> [Muttafaq 'alaih: <em>Shahiih al-Bukhari</em> (IX/294  no. 5194), <em>Shahiih Muslim</em> (II/1060 no. 1436), <em>Sunan Abu  Dawud</em> (VI/179 no. 2127)]</p>
<p>Dan di dalam hadits yang lain beliau shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,</p>
<p><em>“Apabila seorang suami mengajak isterinya untuk berhubungan  intim, maka hendaknya sang isteri melayaninya meskipun ia sedang berada  di atas unta.”</em> [Shahih: <em>Shahiih al-Jaami'  as-Shaghiir</em> 534, <em>Sunan at-Tirmidzi</em> (II/314 no. 1160)]</p>
<p>13 Isteri harus dapat menjaga rahasia  suami dan rahasia rumah tangga, janganlah sekali-kali ia  menyebarluaskannya. Dan di antara rahasia yang paling yang sering  diremehkan oleh para isteri sehingga ia menyebarluaskannya kepada orang  lain, yaitu rahasia yang terjadi di ranjang suami isteri. Sungguh  Rasulullah shalallahu ‘alaihi telah melarang hal demikian.</p>
<p>14 Isteri harus selalu bersungguh-sungguh  dalam menjaga keberlangsungan kehidupan rumah tangga bersama suaminya,  janganlah ia meminta cerai tanpa ada alasan yang disyari’atkan. Dari  Tsauban radhiyallahu’anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,</p>
<p><em>“Isteri mana saja yang minta cerai dari suaminya tanpa adanya  alasan, maka ia tidak akan mencium bau wanginya Surga.”</em> [Shahih: <em>Irwaa-ul Ghaliil</em> (no. 2035), <em>Sunan  at-Tirmidzi</em> (II/329 no. 1199), <em>Sunan Abi Dawud</em> (VI/308 no.  2209), <em>Sunan Ibni Majah</em> (I/662 no. 2055)]</p>
<p>Dan dalam hadits yang lain beliau shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,</p>
<p><em>“Para isteri yang minta cerai adalah orang-orang yang munafik.”</em> [Shahih: <em>Shahiih al-Jaamii'ish Shaghiir</em> (no. 6681), <em>Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah</em> (no. 632), <em>Sunan  Tirmidzi</em> (II/329 no. 1198)]</p>
<h4><a href="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/07/1-dozen-pink-roses-in-bouquet.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-460" title="1 dozen pink roses in bouquet" src="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/07/1-dozen-pink-roses-in-bouquet.jpg?w=300&#038;h=280" alt="" width="300" height="280" /></a></h4>
<blockquote><p>Berikut ini adalah beberapa hak-hak isteri atas suami. Namun ketahuilah wahai para isteri yang shalihah, hendaknya engkau melupakan kekurangan suami dalam hal memenuhi hak-hak mereka. Kemudian hendaklah menutupi kekurangan suami tersebut dengan bersungguh-sungguh dalam mengabdikan diri untuk suami karena dengan demikian kehidupan rumah tangga yang harmonis akan dapat kekal dan abadi.      Karena dengan demikian kehidupan rumah tangga yang harmonis akan dapat kekal dan abadi.</p></blockquote>
<p>Dan hak-hak istri atas suaminya adalah</p>
<p>1 Suami harus memperlakukan istri dengan cara yang ma’ruf karena Allah Ta’ala telah berfirman,  “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” [QS. An-Nisaa': 19]  Yaitu, dengan memberinya makan apabila ia juga makan dan memberinya pakaian apabila ia berpakaian. Mendidiknya jika takut ia akan durhaka dengan cara yang telah diperintahkan oleh Allah dalam mendidik istri, yaitu dengan cara menasihatinya dengan nasihat yang baik tanpa mencela dan menghina maupun menjelek-jelekannya. Apabila ia (istri) telah kembali taat, maka berhentilah, namun jika tidak, maka pisahlah ia di tempat tidur. Apabila ia masih tetap pada kedurhakaannya, maka pukullah ia pada selain muka dengan pukulan yang tidak melukai sebagaimana firman Allah:  “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” [QS. An-Nisaa': 34]  Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tatkala ditanya apakah hak isteri atas suaminya? Beliau menjawab,  “Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecuali tetap dalam rumah.” [Shahih: Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1500), Sunan Abi Dawud (VI/180, no. 2128, Sunan Ibni Majah (I/593 no. 1850)]  Sesungguhnya sikap lemah lembut terhadap istri merupakan indikasi sempurnanya akhlak dan bertambahnya keimanan seorang mukmin, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,  “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” [Hasan Shahih: Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 928), Sunan at-Tirmidzi (II/315 no. 1172)]</p>
<p>2. Suami harus bersabar dari celaan isteri serta mau memaafkan kekhilafan yang dilakukannya karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Janganlah seorang mukmin membenci mukminah. Apabila ia membencinya karena ada satu perangai yang buruk, pastilah ada perangai baik yang ia sukai.” [Muttafaq 'alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/253 no. 5186), Shahiih Muslim (II/ 1091 no. 1468 (60)]  Sebagian ulama Salaf mengatakan, “Ketahuilah bahwasanya tidak disebut akhlak yang baik terhadap isteri hanya dengan menahan diri dari menyakitinya namun dengan bersabar dari celaan dan kemarahannya.”</p>
<p>3. Suami harus menjaga dan memelihara isteri dari segala sesuatu yang dapat merusak dan mencemarkan kehormatannya, yaitu dengan melarangnya dari bepergian jauh (kecuali dengan suami atau mahramnya). Melarangnya berhias (kecuali untuk suami) serta mencegahnya agar tidak berikhtilath (bercampur baur) dengan para lelaki yang bukan mahram.  Suami berkewajiban untuk menjaga dan memeliharanya dengan sepenuh hati. Ia tidak boleh membiarkan akhlak dan agama isteri rusak. Ia tidak boleh memberi kesempatan baginya untuk meninggalkan perintah-perintah Allah ataupun bermaksiat kepada-Nya karena ia adalah seorang pemimpin (dalam keluarga) yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang isterinya, Ia adalah orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga dan memeliharanya.</p>
<p>4. Suami harus mengajari isteri tentang perkara-perkara penting dalam masalah agama atau memberinya izin untuk menghadiri majelis-majelis taklim. Karena sesungguhnya kebutuhan dia untuk memperbaiki agama dan mensucikan jiwanya tidaklah lebih kecil dari kebutuhan makan dan minum yang juga harus diberikan kepadanya.</p>
<p>5. Suami harus memerintahkan isterinya untuk mendirikan agamanya serta menjaga shalatnya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,  “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” [QS. Thahaa: 132]</p>
<p>6. Suami mau mengizinkan isterinya keluar rumah untuk keperluannya, seperti jika ia ingin shalat berjama’ah di masjid atau ingin mengunjungi keluarga, namun dengan syarat menyuruhnya tetap memakai hijab busana muslimah dan melarangnya untuk tidak bertabarruj atau sufur. Sebagaimana ia juga harus melarang isteri agar tidak memakai wangi-wangian serta memperingatkannya agar tidak ikhtilath dan bersalam-salaman dengan laki-laki yang bukan mahram, melarangnya menonton telivisi dan mendengarkan musik serta nyanyian-nyanyian yang diharamkan.</p>
<p>7. Suami isteri tidak boleh menyebarkan rahasia dan menyebutkan kejelekan-kejelekan isteri di depan orang lain. Karena suami adalah orang yang dipercaya untuk menjaga isterinya dan dituntut untuk dapat memeliharanya. Di antara rahasia suami isteri adalah rahasia yang mereka lakukan di atas ranjang. Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wasallam melarang keras agar tidak mengumbar rahasia tersebut di depan umum.</p>
<p>8. Suami mau bermusyawarah dengan isteri dalam setiap permasalahan, terlebih lagi dalam perkara-perkara yang berhubungan dengan mereka berdua, anak-anak, sebagaimana apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau selalu bermusyawarah dengan para isterinya dan mau mengambil pendapat mereka.</p>
<p>9. Suami harus segera pulang ke ruamh isteri setelah shalat ‘Isya. Janganlah ia begadang di luar rumah sampai larut malam. Karena hal itu akan membuat hati isteri menjadi gelisah. Apabila hal itu berlangsung lama dan sering berlang-ulang, maka akan terlintas dalam benak isteri rasa waswas dan keraguan. Bahkan di antara hak isteri atas suami adalah untuk tidak begadang malam di dalam rumah namun jauh dari isteri walaupun untuk melakukan shalat sebelum dia menunaikan hak isterinya.</p>
<p>10. Suami harus dapat berlaku adil terhadap para isterinya jika ia mempunyai lebih dari satu isteri. Yaitu berbuat adil dalam hal makan, minum, dan pakaian, tempat tinggal dan dalam hal tidur seranjang. Ia tidak boleh sewenang-wenang atau berbuat zhalim karena sesungguhnya Allah Ta’ala melarang yang demikian.</p>
<p>Sumber: ‘Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz’ edisi Bahasa Indonesia ‘Panduan Fiqih Lengkap Jilid 2′ karya ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir</p>
<h4>www.shalihah.com</h4>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahayahantari.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahayahantari.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahayahantari.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahayahantari.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cahayahantari.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cahayahantari.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cahayahantari.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cahayahantari.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahayahantari.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahayahantari.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahayahantari.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahayahantari.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahayahantari.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahayahantari.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahayahantari.wordpress.com&amp;blog=8520193&amp;post=459&amp;subd=cahayahantari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayahantari.wordpress.com/2010/07/15/hak-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cahayahantari.files.wordpress.com/2010/07/1-dozen-pink-roses-in-bouquet.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1 dozen pink roses in bouquet</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
